Showing posts with label CERPEN ISLAMI. Show all posts
Showing posts with label CERPEN ISLAMI. Show all posts

dialog singkat Wanita Gaul dengan Pemuda Soleh

|| || || Leave a comments

Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh:

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".

Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomongMas sudah punya pacar belum?"

Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Pemuda: “Aamiin.

Cukuplah Surga Hanya Sampai di Hatimu, Karena Niatmu adalah Menghijabi Hati

|| || , || Leave a comments

        Al-Kisah Diceritakan, ada seorang wanita yang dikenal taat dalam beribadah. Dia sangat rajin melakukan ibadah wajib maupun sunah.


         Hanya ada satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab menutupi auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum, seraya menjawab: "Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab."

Sudah banyak orang yang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama. Hingga suatu malam ia bermimpi sedang berada disebuah taman yang indah. Rumputnya sangat hijau. Berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan bagaimana segarnya udara dan wanginya bunga.



Sebuah sungai yang sangat jernih. Airnya kelihatan melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ada beberapa wanita disitu yang terlintas juga menikmati pemandangan keindahan taman.


Ia pun menghampiri salah satu wanita tersebut. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

"Assalamu'alaikum saudariku..."
"Wa'alaikum salam, selamat datang wahai saudariku..."
"Terimakasih, apakah ini surga?" Wanita itu tersenyum. "Tentu saja bukan wahai saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum surga."
"Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini..." Wanita itu tersenyum lagi kemudian bertanya, "Amalan apa yang bisa membuatmu kembali wahai sudariku?"
"Aku selalu menjaga sholat, dan aku menambah dengan ibadah-ibadah sunah."
"Alhamdulillah..." Tiba-tiba jauh diujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka, dan ia melihat beberapa wanita yang di taman tadi mulai memasukinya satu per satu. "Ayo, kita ikuti mereka!" kata wanita itu sambil setengah berlari.
"Apa dibalik pintu itu?"
"Tentu saja surga wahai saudariku..." Larinya semakin cepat.
"Tunggu... tunggu aku..." ia berlari sekancang-kencangnya, namun tetap tertinggal.

Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Namun ia tetap saja tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari sekuat tenaga.
Ia lalu berteriak, "Amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau tampak begitu ringan?"
"Sama denganmu wahai saudariku..." jawab wanita itu sambil tersenyum. Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.

"Amalan apalagi yang engkau lakukan yang tidak aku lakukan?" Wanita itu menatapnya dan tersenyum lalu berkata, "Apakah engkau tidak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?" Ia sudah kehabisan nafas, tak mampu lagi menjawab.

"Apakah engkau mengira bahwa Rabbmu akan mengizinkanmu masuk ke Surga-Nya tanpa jilbab penutup aurat?" kata wanita itu. Tubuh wanita itu telah melewati, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar memandangnya dan berkata, "Sungguh disayangkan, amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini.

Cukuplah Surga hanya sampai dihatimu karena niatmu adalah menghijabi hati." Ia tertegun, lalu terbangun... Beristighfar lalu mengambil wudhu. Ia tunaikan sholat malam, menangis dan menyesali perkataannya dahulu.

Dan sekarang ia berjanji sejak saat ini ia akan MENUTUP AUROTNYA.

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)

Berjilbab adalah perintah langsung dari Allah swt, lewat utusan-Nya yakni Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw.

Yang namanya perintah dari Allah adalah wajib bagi seorang hamba untuk mematuhi-Nya. Dan apabila dilanggar, ini jelas ia telah berdosa.

 "Wallahu A'lam Bish Showab..."


           Semoga Cerpen tentang Cukuplah Surga Hanya Sampai di Hatimu Karena Niatmu adalah Menghijabi Hati ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari cahaya islami 99. :)

cerpen: Senyuman Sang Bidadari Kecilku

|| || || Leave a comments

"Bunda, puasa itu wajib ya? Kata bu guru Ila, puasa itu wajib buat semua muslim," tanya Nabila sepulang sekolah.

"Ila juga mau ikutan puasa ah, supaya dapat pahala dan masuk syurga," lanjutnya. "Ila mau masuk syurga, Nda. Ila mau jumpa Allah," ia masih melanjutkan kalimat penuh antusias dari bibir mungilnya. "Kalau Ila masuk syurga, Ila bisa jumpa ayah ya, Nda? Tapi nanti siapa yang jagain Bunda?"

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya, seperti biasa ia akan terus berceloteh riang tanpa henti. "Iya sayang, jadi Ila juga mesti belajar puasa dari sekarang ya, supaya Allah makin sayang sama Ila," sahutku bahagia mendengar semangat putri kecilku itu.

Ketika mengantarnya tidur, ia kembali mengingatkan untuk membangunkannya saat sahur nanti. Ia berbisik di telingaku saat aku mengecup keningnya di tempat tidur, "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," pintanya polos.

Deg... Deg!!! Ada perasaan lain menyergapku. Ah, segera kutepis rasa aneh itu. Seharusnya aku bersyukur ia tidak seperti teman-teman sebayanya yang sulit diajak belajar berpuasa. Aku mengiyakan dan hanya mengangguk dalam diam, ribuan syukur kupanjatkan pada-Nya karena telah menganugerahkanku seorang putri kecil yang luar biasa.

Di sepertiga terakhir malamku, kembali kutumpahkan airmata kesyukuran atas karunia-Nya memberiku Nabila di sebuah episode kehidupanku. Kuhiba segunung pinta agar Dia selalu menjaganya di tiap desah nafas yang Ia berikan. Tiada lain yang kuinginkan selain menjadikan putriku seorang wanita shalihah bidadari-MU di dunia.

Nabila terlihat begitu bersemangat menyantap sahurnya. Ia mengambil sayur yang biasa enggan disentuhnya tanpa kuminta. Benar-benar sahur pertama yang begitu berkesan bagiku, sama seperti sahur pertama beberapa tahun lalu saat aku merasakan berpuasa pertama dengan status baruku sebagai seorang istri dari lelaki pilihan yang dipilihkan-Nya.

         Pagi ini, sebelum mengantar Nabila ke sekolah, kusempatkan mampir ke toko peralatan kue untuk membeli beberapa bahan yang kubutuhkan. Kuajak Nabila turun dan kugandeng ia masuk ke dalam toko.

Aku sibuk memilih beberapa bahan hingga tak sadar bahwa Nabila tak lagi di sampingku. Tiba-tiba kudengar beberapa wanita menjerit dan orang-orang berlarian di luar toko. Aku tersadar Nabila tak ada di dekatku. Aku panik dan ikut berlari ke luar karena aku tak bisa menemukannya di dalam toko.

Aku berlari ke arah kerumunan orang ramai dan sesaat kurasakan bumi seolah berhenti berputar. Bumi tempatku berpijak seakan-akan menarik segenap kemampuanku tuk bergerak. Di depanku, Nabila tergeletak dengan baju seragam putihnya yang berlumuran darah.

Segera kudekap ia erat dan menggendongnya sigap. Aku dibantu beberapa orang di sekitar lokasi segera melarikan buah hatiku ke rumah sakit. Di dalam mobil kudengar orang-orang mengatakan bahwa putriku adalah korban tabrak lari.

Sungguh aku tak peduli bagaimana kejadian sebenarnya atau siapa pun pelakunya, bagiku saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa putri mungilku. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku beristighfar dan mengajak bicara putriku dan memintanya bertahan.

Nabila mengeluarkan desah-desah kecil yang berusaha kutangkap, "Nda, sakit. Kepala Ila, Nda." Jelas terlihat ia menahan sakit yang tak tertahankan.

Sekuat tenaga aku berusaha menyimpan tangisan yang sudah menyesak di dada. Aku tak boleh terlihat menangis karena itu akan membuatnya lebih sakit dan panik. Aku harus terlihat tenang agar semangatnya muncul untuk berjuang melawan sakitnya.

"Ila sabar ya sayang, kita hampir sampai ke rumah sakit. Bunda tahu anak bunda kuat, Ila harus bertahan ya sayang, Allah pasti bantu Ila supaya sembuh," ah, derai itu sulit sekali terbendung saat melihat raut wajah bidadari kecilku yang pucat menahan sakit. Darah terus mengalir dari pelipisnya.

"Nda, Allah sayang Ila kan. Allah mau kan jumpa Ila?" parau suaranya masih bisa terdengar di telingaku. Sebuah senyuman tersungging di bibir mungilnya. Senyuman terindah yang pernah ia punya.

Ah, semakin erat dekapanku seolah ia tak ingin kulepaskan lagi. Aku seolah terseret ke peristiwa 2 tahun silam saat aku berada di posisi yang sama, mendekap seseorang yang sudah menjadikanku permaisuri di taman hatinya meregang nyawa setelah sebuah mobil menabraknya tepat di depan pintu gerbang setelah mengantarkanku ke sekolah tempatku mengajar. Masih terpahat di ingatan, senyuman terakhir yang diberikannya sore itu. Ya Rabb, kuatkan hamba.

Sampai di rumah sakit, Ila segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter memintaku untuk menunggu di depan ruang operasi karena ternyata Ila harus segera dioperasi disebabkan pendarahan hebat di kepala dan punggungnya.

Aku merasa detik demi detik merambat begitu perlahan di ruang tunggu itu. Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu dengan kecemasan yang sulit digambarkan di depan ruang operasi itu, akhirnya aku menyeret langkahku ke arah mushala di ujung koridor tuk mengadukan segala gundah yang kurasakan di atas sajadah cinta-Nya.

Setulus kalbu kupinta dan kurayu pada sang pemberi hela nafas agar Ia menyembuhkan putri kecilku. Namun di sebalik semua itu, aku hanya meminta yang terbaik dariNya untuk cahaya mataku itu, karena aku yakin apa pun yang diputuskan-Nya, maka itu adalah yang terbaik untuknya, untukku, dan untuk semuanya.

Aku hanya meminta Dia memberiku kekuatan melalui semua ini. Ketenangan semakin kurasakan saat lirih ayat-ayat cinta-Nya itu kulafadzkan lirih. Ada rasa damai yang tiba-tiba hadir menyelusup di sanubari.

Kembali ke ruang tunggu kujumpai seorang wanita separuh baya yang kurasakan juga sedang menghadapi gundah yang sama. Ah, ruang ini, bangunan ini, seakan airmata, kegelisahan, dan kecemasan tersketsa di tiap sudut rumah sakit.

Setelah hampir 4 jam menunggu dengan kecemasan yang tak tergambarkan, dokter itu keluar dan menatapku dengan tatapan sendu. Aku hafal sekali tatapan itu, tatapan yang sama saat lelaki yang telah menjadikanku seorang ibu itu dibawa masuk ke ruang operasi, tatapan serupa saat wanita yang menjadi perantara hadirku ke dunia harus melawan maut di meja operasi itu.

Ya Allah, kupinta kekuatan dariMU. "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," terdengar lagi pintanya semalam.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un . . .

Kulihat wajah Nabila pucat seperti kapas, namun di wajahnya senyum manis itu tak jua sirna, tak lagi kulihat sebuah derita di sana, yang tersisa hanya sebuah senyuman yang mengiringinya menghadap sang pemilik kehidupan.

Senyum yang juga diberikan ayahnya saat ia pergi meninggalkan dunia fana ini. Airmata tak lagi bisa kubendung saat kutatap lekat wajah bidadari kecilku itu, seolah ingin kupahat tiap detil wajahnya di dinding hati agar sketsa itu takkan pernah pudar tuk selamanya.

Selamat jalan, sayang. Kau pergi disaat mulia, disaat kau mulai meraba arti kehidupan di usiamu yang belia, disaat kau mulai tertatih belajar mencintai-Nya, di Ramadhanmu yang pertama. Kau dapatkan kebahagiaan orang yang berpuasa, kebahagiaan akan perjumpaan denganNya.

Bunda mencintaimu, nak. Sangat, namun ternyata cintaNya padamu telah menguntum saat cinta bunda masih berputik. Bunda sadar cinta-Nya akan lebih bisa membuatmu bahagia. Dia jauh lebih mencintaimu, sayang.

Hingga Dia tak rela kau dibius cinta dunia, karena itu Ia ingin kau ada di sisiNya. Bunda janji, bunda akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memelukmu lagi. Do'akan bunda, ya nak. Bunda sayang Ila, nak.


Subhanallah . . .




          Semoga Cerpen tentang Senyuman Sang Bidadari Kecilku ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari cahaya islami 99. :)

Takkan Ku Tinggal Sinar Yang Indah

|| || || Leave a comments


Aku dilahirkan dalam satu keluarga mewah berbangsa Cina. Apabila aku tamat dalam SPM ku, ayahku begitu berminat untuk menghantarku menyambung pelajaran ke Jepun di bidang kejuruteraan. Segala perbelanjaan ditanggung sendiri oleh ayah. Apabila aku tamat nanti, dia mahu aku membantunya dalam perniagaan. Setelah sampai masanya, dan jawapan menyatakan aku telah diterima untuk belajar di sana, jamuan secara besar-besaran telah diadakan di rumahku. Kesemua sanak saudara dan sahabat handai telah dijemput oleh ayah.

Esoknya, aku ditemani sendiri oleh ayah berangkat ke Jepun dan diiringi oleh sanak saudara hingga ke lapangan terbang. Ayah turut sama ke Jepun dengan tujuan di samping menghantarku, ia juga menguruskan perniagaannya. Setelah ayah menguruskan tempat tinggalku dan pendaftaran di Universiti tempat aku belajar, barulah ayah berani meninggalkan aku bersendirian.

Setelah dua hari aku belajar di situ, aku telah berkenalan dengan seorang pemuda Jepun yang sangat kacak rupanya dan beragama Islam. Bukan tidak ada pelajar Malaysia untuk aku bergaul, malah memang ramai, tapi entah mengapa pemuda Jepun itulah yang menarik minatku. namun pemuda Jepun itu sendiri memang suka bergaul dengan pelajar Malaysia terutama yang berbangsa Melayu dan beragama Islam. Katanya, orang Melayu lemah lembut, sopan santun dan pandai mengambil hati orang.

Masa terus berlalu. Setelah agak lama berkenalan dengannya, lama kelamaan aku begitu berminat terhadap agama yang dianutinya, hingga aku suka bertanyakan itu dan ini tentang Islam kepadanya. Manakala dia pula begitu berminat untuk menceritakan kepadaku pelbagai perkara tentang Islam, termasuklah tentang ke-Esaan Allah. Memang agama yang aku anuti pada masa itu jauh berbeza, malah aku merasakan agama Islam itu lebih indah dan lebih cantik. Dan terasa agama yang kuanuti itu banyak salah dan silapnya.

Akhirnya, aku tunduk dan mengakui ke Islamanku di hadapannya. Pada hari yang ditentukan, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan pelajar-pelajar Malaysia. Tetapi pengIslamanku itu tidak aku ceritakan kepada keluargaku. Aku merahsiakan segala-galanya.

Seperti biasa apabila tiba akhir tahun, aku pulang ke Malaysia untuk menemui keluargaku. Kepulanganku tidak menimbulkan apa-apa syak wasangka kepada mereka. Ketika itu, pakaianku masih belum berubah. Aku masih kelihatan biasa dan seperti dulu juga. Soal makanan tidak merunsingkanku, kerana keluargaku tidak suka makan babi. hanya yang merungsingkan, ayah begitu suka memelihara anjing. Dan dulu pun, aku suka memanjakan anjing yang dipelihara oleh ayah.

Namun setelah beberapa hari berlalu, ibu mula mengesyaki sesuatu. Setiap kali suara azan kedengaran dari masjid, ibuku sering mendapati aku mengurungkan diri di bilik. Perubahan paling besar, aku tidak suka kepada anjing peliharaan ayah. Bila ibuku mengajak aku ke rumah ibadah, aku sering menolak dengan bermacam-macam alasan.

Hinggalah menjelangnya Tahun Baru Cina, segala-galanya telah terbongkar apabila ayah memanggilku untuk meraikan Tuhan mereka pada malam tahun Baru Cina itu. Aku enggan pergi. Bila ayahku bertanya, aku katakan tidak sihat.

Tetapi tiba-tiba ibu menjawab, "Ah! Dia tu setiap kali diajak ke rumah ibadah, dia selalu buat alasan. Tak sihatlah, nak studylah, letihlah, mengantuklah, macam-macam. Dulu takpun macam ni, ini mesti ada sesuatu. Aku dah lama nak sampaikan pada kau perkara ini, tapi kau selalu sibuk."

Ayah merenungku dalam-dalam. Kemudian kakinya melangkah masuk ke bilikku dan menghampiriku dalam keadaan terbaring di katil. "Apa kau sudah membenci agamamu Swee Eng?" Soal ayah.

Aku terdiam kaku.

"Kau dah jadi free-thinker ke?" Begitulah yang ayah faham. Ayah tahu, ramai anak muda yang ke luar negeri tidak mempercayai Tuhan.

Aku hanya menggelengkan kepada."Habis? Kau sudah tukar agamamu? Kau telah Kristian Ke?"

Aku gelengkan kepala. Melihatkan keadaanku, ayahku lantas menuju ke almari pakaianku. Ayah jadi terkejut bila melihat dalam almariku tersimpan sepasang telekung.

"Swee Eng.... Apa benarkah ini!?" Jerit ayah. Aku lihat ibuku juga turut terkejut.

"Swee Eng!!!" Jerit ibuku.

Pada malam itu sisi keluarga berkumpul di bilikku. Termasuk abang dan kakakku.

"Swee Eng..... usia kau belum dua puluh satu tahun lagi, kau belum boleh diberi kunci lagi untuk berlaku bebas dalam rumah ini!" Herdik ayah tak dapat menahan sabar lagi.. Dia mengangkat tangannya untuk menamparku. Ibuku menangis sambil dipujuk oleh kakakku. Aku terpaku di katilku sambil merenung bantal dan hanya mampu menitiskan air mata. Dalam hati ku berdoa, semoga Allah selamatkan diriku. Aku sudah cintakan Islam dan tidak mahu tinggalkan agama yang suci ini.

"Ayah, sabarlah ayah. Berilah dia tempoh untuk berfikir," pujuk abangku.

"Baik! Aku beri kau masa untuk berfikir. Bila kau pulang ke Jepun nanti, kau fikirkanlah perkara ini masak-masak. Bila kau dan bertukar fikiran, kau kirimlah surat untuk kami di sini. Atau bila ayah ke Jepun nanti, kau beritahulah ayah. Dan ayah harap, kau jangan tinggalkan untuk sambut Tahun baru bersama-sama esok.' kata ayah dan terus meninggalkan bilikku. Kemudian seorang demi seorang meninggalkan bilikku.

Akhir sekali meninggalkan bilikku ialah abangku.

"Kau fikirlah seadil-adilnya Swee Eng, kerana kau berhak menentukan masa depanmu sendiri," kata abang. Kata-kata abang itu dapatlah menenangkan sedikit fikiranku yang kusut apabila mendengar amaran ayah tadi.

Esoknya, Tahun Baru Cina, aku tetap berdegil tidak mahu keluar dari bilik meskipun dipujuk oleh ayah dan ibu sendiri. Hingga ayahku menyumpah-nyumpah dengan kata-kata yang sungguh menyakitkan hati.

"Anak sial. tak bawa untung. Kita suruh dia belajar di luar negeri untuk bantu kita, dia buat perangai pula. Nantilah dia, nanti dia tau siapa aku. Ingat. Kalau kau masih tak kembali kepada agama datuk nenek kau, aku bukan ayahmu lagi. Hari ini berkurunglah kau dalam bilik ini, anak sialan! Letih ibumu melahirkanmu. Tak ada hasil..... Bawa celaka......" Kemudian ayahku berlalu.

Pada hari itu, aku hanya mengurugkan diriku di bilik. Suara riuh di ruang tamu rumahku benar-benar membingitkan telingaku. Maklumlah, pada hari itu ayah mengadakan hari terbuka, kerana ayah adalah seorang yang berpangkat Datuk.

Dari awal pagi lagi aku tidak memasukkan apa-apa ke dalam perutku. Aku terpaksa berpuasa pada kerana semua masakan yang dimasak oleh ibu benar-benar tidak lagi menyelerakanku. Walaupun keluargaku tidak suka makan daging babi, tapi aku tahu masakan ibu pasti memasukkan juga sedikit minyaknya. Ini menyebabkan tekakku menolaknya dari menerima makanan tersebut.

Bila hari hampir menjelang Maghrib, aku memohon izin dari ayah untuk pergi ke rumah sahabatku. Pada mulanya ayah enggan mengizinkan aku ke mana-mana hari itu. tapi atas pujukan abangku, akhirnya ayah melepaskan juga aku pergi.

"Daripada dia lari, baiklah dia pergi dalam pengetahuan kita ayah. Lepaskanlah derita hatinya, mudah-mudahan, dia dapat berfikir dengan tenang dan kembali kepada Tuhan kita," pujuk abang.

Aku terus ke rumah Marlia, sahabat Melayuku untuk berbuka puasa pada hari itu. Beliau kasihan mendengar ceritaku, dan mempelawa aku untuk tinggal di rumahnya sepanjang cutiku ini. Tapi aku enggan. Aku memberi alasan. "Tak apalah dulu Marlia, selagi aku boleh mempertahankan imanku, selagi itulah aku akan tinggal di rumah. Kerana kalau aku lari dari mereka, ia lebih menyakitkan hati mereka," jawabku.

Setelah habis cuti aku kembali ke Jepun. Pemergianku kali ini tidak lagi diiringi oleh sanak saudara, jauh sekali ayahku. Cuma abangku saja yang simpati padaku. Dialah yang menghantarkan aku ke lapangan terbang dan dia jugalah yang memberikan perangsang untukku terus belajar tanpa putus asa.

Setelah tiga bulan, ayahku datang sendiri ke Jepun untuk menemuiku. Kalau dulu soalan yang pertama yang selalu ditanyakan oleh ayah adalah, "Apa khabar Swee Eng?", tetapi kali ini yang ditanya oleh ayah, "Bagaimana, kau sudah fikirkan masak-masak masa depanmu?"

"Sudah ayah," jawabku sepatah.

"Kalau begitu, bagaimana pilihanmu? Masihkah engkau membenci agama datuk nenekmu?"

Aku menjawab, "Ayah, saya lebih sukakan Islam. Dan saya lebih kasih dan cintakan Islam daripada segala-galanya, ayah."

"Cih sial! Betul-betul kau kena sihir. Mana orang yang bertanggungjawab meng-Islaman kau? Aku mahu jumpa. Kalau boleh aku mahu bunuh dia!" Marah ayahku.

"Dalam hal ini ayah tak boleh menyalahkan sesiapa, ini semua atas kehendak Swee Eng sendiri ayah," kataku.

"Baiklah, kalau atas kehendak engkau, kautinggallah di sini. Aku benci kau. Apa nak jadi dengan kau, jadilah. Kau bukan anakku lagi. Jangan harap duit untuk kau akan sampai. Aku tak akan mengirimkan walau sesen pun!" Itulah keputusan ayah. Dan dengan itu ayah terus pergi meninggalkanku. Tinggallah dan keseorangan dalam kesedihan.

Tika itu aku merasakan dunia ini terlalu sepi, tiada siapa tempat untuk aku mengadu. Tiada siapa yang dapat aku minta pertolongan. Apakah sahabat-sahabatku yang dulunya di waktu aku senang, sudi menolongku? Oh Tuhanku! Apakah hikmah kejadian ini? Aku benar-benar buntu, tiada tempat untukku mengadu. Segala-galanya aku serahkan kepada Allah.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku, "Tuhan! Selalunya orang yang mempertahankan kebenaran itu akan dihina dan disisih. Biasanya dia dalam kemiskinan dan kesepian kerana dibenci. Tapi Tuhan! Aku yakin dengan kemurahan dan kekuasaan-Mu. Oleh itu wahai Tuhan, pada-Mu sajalah yang aku harapkan agar Kau bantulah aku dan tolonglah aku."

Apa yang tinggal padaku hanyalah wang simpanan dalam buku akaunku. tapi ia hanya cukup untuk tambang pulang ke Malaysia dan tidak mencukupi untukku tinggal setahun di sini. Aku serba salah untuk menceritakan perkara ini kepada rakan-rakanku kerana aku sendiri faham masalah kami pelajar-pelajar yang tinggal di luar negeri.

Dalam aku kebuntuan itu, tiba-tiba aku mendapat sepucuk surat dari abangku. Abang faham kedudukanku, setelah diceritakan oleh ayah sewaktu pulang dari Jepun. Abang begitu simpati dengan nasibku dan menyuruh aku meneruskan pelajaranku dan berjanji akan membantuku.

Menurut abangku, dia juga berminat untuk memeluk Islam, tapi belum masanya kerana dia mahu anak-anak dan isterinya turut sama memeluk agama Islam.

Namun begitu, pertolongan abang tidak lama. Ayah akhirnya dapat tahu apa yang dilakukan oleh abang. Ayah melarang abang dari membantuku.

Rasa-rasanya di saat itu ingin saja aku berhenti dari belajar dan pulang saja ke Malaysia. Siapa lagi yang mahu menolongku untuk aku meneruskan pelajaranku? Aku benar-benar gelisah. Wang yang ada padaku hanya benar-benar cukup untuk tambang balik ke Malaysia. Tapi di Malaysia pun, di mana aku mahu pergi? Di mana??? mana ada saudara maraku yang beragama Islam? Mohon pertolongan pada kawan-kawan? Sudikah mereka menolongku? Rasa-rasanya di ketika itu ingin aku kembali menukarkan agamaku ke agama asal.

Tapi lama kelamaan, keresahan hatiku dapat juga dibaca oleh rakan karibku iaitu pemuda Jepun itu. Dia mahu aku meneruskan pelajaranku dan mahu mengambilku sebagai isterinya agar aku mendapat perlindungan dan bimbingan dalam Islam, kerana keluarganya kesemuanya beragama Islam. Setelah berfikir panjang, aku setuju menjadi isterinya.

Di saat itu, barulah aku terasa dunia yang gelap ini kembali cerah dan bersinar kembali. Setelah aku berkahwin, aku kembali ke Malaysia dengan membawa suamiku untuk aku perkenalkan kepada keluarga. Ayah tidak dapat berkata apa-apa lagi kerana aku sudah menjadi milik orang. ibu hanya meraung melihat perubahan sikapku. manakala abangku hanya berkata kepadaku, "Semoga kau bahagia."

Ketika itu betapa syukurnya aku kerana Allah telah melepaskan aku dari segala kedukaan dan kebuntuan.

Begitulah Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah swt. Setiap mehnah yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya hanyalah untuk menguji sejauh manakah kesabaran kita dalam menghadapi ujian-ujian yang ditentukan-Nya.

Allah yang maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terus dalam penderitaan. Setelah hati benar-benar berserah dan memohon pada-nya, Dia akan berikan bantuan tanpa diduga-duga. Sesungguhnya Allah tidak kejam. Setiap penderitaan akan sentiasa diselang-seli dengan kegembiraan.

Andainya hamba itu seorang yang bersyukur bukan saja kegembiraan itu Allah berikan di dunia ini, malah di Akhirat lebih-lebih lagi. Itulah keadilan Allah dan bijaksananya Allah. Oh Tuhan! Kaulah Maha Penyayang yang melepaskan penderitaan ini. Semoga kau akan sentiasa membantu dan menolongku wahai Tuhan!

[cahayaislami99.blogspot.com]

Belum Jam 6

|| || || Leave a comments


Sekedar share tulisannya Pak Indra Noveldy di Sekolah Pernikahannya tanggal 2 Januari kemarin.  Bacanya “berasa” banget.
 
***
Saya teringat obrolan dengansalah seorang mentor saya, seorang pembelajar saat dia sedang menjalani perawatan setelah operasi. Selain bertanya apa dan bagaimana penyakitnya, ada yang menarik dari obrolan kami. Semoga obrolan ini bisa memberi manfaat untuk sahabat semua.

Mentor: “Mas Indra, ternyata dioperasi itu gak enak yaa…”

Saya : “Hehehe, yang bilang enak itu siapa pak?”

Mentor: “Tapi ngomong-ngomong saya dapat pembelajaran nih, mas..”

Saya: “Wah, boleh dong di sharing pak… Jadi pengen tahu”

Mentor:
“Iya mas… Setelah selesai operasi, ternyata saya belum boleh makan dan minum sampai waktu yang ditentukan. Jadi selesai operasi kata dokter saya, sebelum jam 6 sore saya belum boleh makan dan minum. Kalau gak makan sih saya masih bisa tahan. Tapi hausnya itu lho… Sampai kering kerongkongan saya… Tapi saya gak boleh minum sebelum jam 6 sore. Tahu gak mas Indra… Rasanya menunggu jam 6 sore ituuu… kayaknya lamaaaaa banget… Tiap nengok jam, koq belum jam 6 juga ya? Mau nyolong minum takut malah bisa berabe urusannya… Jadi ya, saya terpaksa nahan haus terus… Sampe akhirnya bener-bener jam 6 akhirnya baru saya bisa minum… Pfiuuh”
Saya: “Iya ya pak… Pasti menderita banget nunggu segitu lama… Tapi pembelajarannya apa ya pak?”

Mentor:
“Gini mas Indra… Dalam kehidupan, seringkali kita menghadapi masalah, cobaan yang sepertinya koq gak beres-beres… Walaupun kita sudah berjuang sekuat tenaga… Walaupun kita sudah ngotot mengerahkan semua upaya yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah tersebut… Walaupun semua doa sudah kita panjatkan…Namun sepertinya kita belum mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan. Baik itu di bidang keuangan, karir maupun relationship…

Nah… sayangnya kita tidak tahu ‘jam 6′ nya kita itu kapan???

Di sinilah kita harus mau berserah…
Di sinilah kita harus mau legowo….
Di sinilah kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik di waktu yang tepat…
Di sinilah kita harus yakin bahwa semuanya akan indah pada waktu NYA.”

Saya: “Oohh gitu ya pak… (sambil manggut-manggut)”
Buat sahabat yang saat ini sedang berjuang… Jangan menyerah… Mungkin sebentar lagi akan ‘jam 6′ untuk anda. Tinggal sebentar lagi… Sedikiiit lagi…
Yakinlah, semuanya akan indah pada waktu NYA
F I G H T !!!
***
So, apapun yang sedang kita ikhtiarkan, ayo tetap semangat memperjuangkannya dan tetap husnudzon pada-Nya.
[ryu1nayumi]

UHIBBUKI FILLAH...

|| || || Leave a comments




Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak buku ruang tamuku. Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering kubaca. Dan satu kali dalam satu tahun aku memandangi takjub maharku itu seperti ini...


Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah kuhidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah kuganti. Kordin telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah telah kubersihkan.

”Kok senyum aja sih dari tadi?” suamiku menegurku. Aku hanya bisa tertawa kecil. ”Nggak pa pa. Pingin sedekah aja. He he...”

Suamiku membalas seyumanku dan pergi mandi.

Saat ditutup, kuamati pintu kamar mandi itu... dan sekeliling rumah ini. Rumah kontrakan penuh kenangan. Sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik kami karena pemilik sebenarnya akan pindah ke luar kota dan menjualnya pada kami. Suamiku pun bekerja lembur akhir-akhir ini untuk melunasinya.

Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya. Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi terasa sepi.

Terdengar suara motor berderu melewati rumah kami sekali waktu. Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dan sesekali tawa mereka.

Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak berubah, masih seperti itu... kalem. Hanya jenggotnya saja yang kian lebat. Hmmm... dia masih dengan pendiriannya. Subhanallah...

Pulang suamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring.

”Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek? Pantes dari tadi seyum aja. Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level kan, dek?! Nah, mendingan pijetin abang nih, abang capek banget hari ini.”

Ha ha ha... masih. Dari dulu emang manja bapak ini.

Tapi tidak saat dia datang ke rumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya bisa mendengar percakapan hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku meragukannya. Yaaah, aku rasa adalah hal yang wajar bila setiap orang tua ingin anaknya hidup berkecukupan. Dan yaaah, memang untuk hidup di jaman sekarang, pekerjaan suamiku yang tidak tetap mungkin tidak bisa mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah, Allah akan memudahkannya.

Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari itu.

Aku hampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk tidak menjadi isteri seorang yang shalih seperti dia adalah suatu kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarku dengan terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lama hingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi pengertian pada ayahku dan akhirnya meyakinkan beliau.

Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena rumah yang dikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu itu, ya rumah ini. Selama seminggu itu dia sibuk sekali. Entah apa saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa khawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu... nggak ada apa-apanya.”

Ia menatapku sendu.

Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada. Hanya saja mungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.

Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang... asalkan ada ember biar adek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar adek bisa ngejemur, asal ada api biar adek bisa masak buat abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asal ada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selang sehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagi adek.”

Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakan kesiapanku... insya Allah, aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...

Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasa kulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku itu memang dibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku membaca buku. Wah, pantas saja aku tak melihat rak itu di rumah akhir-akhir ini.

Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang kosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari ibuku dan ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung.

Semua jendela telah berkordin.

Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, ”Dek, abang lupa beli tali sama paku buat jemuran.”

Hi hi hi. Aku tertawa cekikikan. ”Adek kira rumahnya bener-bener kosong nggak ada apa-apanya.”

”Yaaah... maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumah adek.”

Hi hi hi... abang.
Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti abang, yang sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun fasilitasnya, asalkan

ada abang... hidupku udah lengkap.


(untuk pangeranku, datanglah pada ayahku dan jabatlah tangan beliau. Katakanlah dengan bangga ”Sir, your daughter is in a good hand, insya Allah.”).

[:eramuslim.com]

Hamba yang dirindukan ALLAH

|| || || Leave a comments




Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al-Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau dikabulkan oleh Allah.

Permintaannya (diantaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rizki Allah tapi tidak tampaklah dilapangkan rizqi itu untuknya.

Padahal dahulu, KETIKA IA MASIH BEKERJA MENJADI PETUGAS BEA CUKAI, UANG DAN KESENANGAN ADALAH KAWAN AKRAB. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa dibantah lagi di akhirat. Bergetar hatinya, maka masuklah hidayah Allah atasnya.

Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah, agar diberikan harta yang halal dan rizqi yang lapang dalam menjalani hidup ini.

Namun berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu), PENGHASILANNYA SEMAKIN MENURUN, BELIAU SEKELUARGA SERING SAKIT DAN MENJADIKAN BADANNYA YANG SEHAT MENJADI KURUS. ANAK SATU-SATUNYA MENINGGAL SETELAH MENJALANI PERAWATAN SELAMA BEBERAPA MINGGU DIRUMAH SAKIT.

Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu ia mendekatkan diri kepada Allah. Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya, korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat.

Subhanallah, semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Rabbnya, menangis dan perih rasa batinnya.

Setiap dalam sedihnya ia berdoa, selalu ada bisikan lirih di hatinya, "Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!". Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia dipecat, ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk, musibah yang seakan tidak berujung .. ahhhhh…

Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya,tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan diatas, tidak juga tampak yang dijanjikanNya. Mulailah timbul pemikiran yang tidak baik dari Syaithon. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap doanya selama ini.

Maka pada malam harinya, ia berdoa kepada Allah :

"WAHAI ALLAH YANG MENCIPTAKAN MALAM DAN SIANG, YANG DENGAN MUDAH MENCIPTAKAN DIRIMU YANG SEMPURNA INI. KARENA ENGKAU TIDAK MENGABULKAN PERMINTAANKU HINGGA SAAT INI, MULAI BESOK AKU TIDAK AKAN MEMINTA DAN SHOLAT LAGI KEPADAMU, AKU AKAN LEBIH RAJIN BERUSAHA AGAR TIDAKLAH HARUS BERALASAN BAHWA SEMUA TERGANTUNG DARIMU. MAAFKAN AKU SELAMA INI, AMPUNI AKU SELAMA INI MENGANGGAP BAHWA DIRIKU SUDAH DEKAT DENGANMU !"

Beliau tutup doa dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia berniat seperti itu (’mengkhatamkan’ ibadah sholat lailnya). Beliau berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak mengetahui kapan ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah. Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq cahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu… kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah.

Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk dihadapan Sesuatu Yang Maha Dahsyat. Terdengar olehnya suara pertanyaan, "BAGAIMANA HAMBAKU SI FULAN, HAI MALAIKATKU ?" nama yang tidak dikenalnya.

Seorang berdiri dengan tubuh gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih, "Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu.

Dia mengatakan demikian : "Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan dirimu yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !"

Ampuni dia yaa Al ‘Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!"

Tersentak beliau, itu. … kata-kataku semalam … celaka, pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi :

"Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan.

Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya.

Aku rindu kepadanya… rindukah ia kepadaKu, hai malaikat-malaikatKu ?"

Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !" semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya.

Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii…

Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu’, kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya.

"…Yaa Allah, Yaa Robbi jangan engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela…Yaa Allah, aku rindu padaMu…_"


[facelim/astia]

IBU MALAIKATKU DI DUNIA

|| || || Leave a comments




Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Menjelang diturunkan dia bertanya kepada Tuhan,

“Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah,” kata si bayi..

Tuhan menjawab,”Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu”

“Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagi saya untuk bahagia.”demikian kata si bayi.

Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia”

Si bayipun bertanya kembali,”Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu?”

Sekali lagi Tuhan menjawab,”Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa”

Si bayipun masih belum puas, ia pun bertanya lagi,” Saya mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?”

Dengan penuh kesabaran Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun.”

Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaanya,” Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi”

Dan Tuhanpun menjawab,” Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesunggugnya Aku selalu berada di sisimu”

Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya,”Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?”

Tuhanpun menjawab “Kamu dapat memanggil malaikatmu….IBU…”

Sahabat Hikmah....
Kenanglah Ibu yang menyayangimu
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…

Ingatkah engkau? ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu?

ingatkah engkau? ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu? dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan,

kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.

simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang

segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut

jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang. ketika ibu telah tiada…..

tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
tak ada lagi senyuman indah, tanda bahagia
yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya,
yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan, tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit
tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendoakanmu disetiap hembusan nafasnya

Kembalilah segera..peluklah ibu yang selalu menyayangimu..
ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.

Saudara2ku, berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya jangan biarkan engkau menyesal di masa datang kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu..
kenanglah semua-cinta dan kasih sayangnya….
Ibu maafkan aku, sampai kapanpun jasamu tak akan terbalaskan…

[cahayaislami99.blogspot.com]

Kisah Sang Angin

|| || || Leave a comments


Gambar
Meski hari belum jauh dari kokokan ayam jantan,
aku tetap bersemangat berhembus disela-sela awan kelabu,
berlari searah dengan angin lain,

saling menyapa dan berkejar-kejaran.
Pagiku yang segar tak ditemani surya, tertutup awan dipertengahan bulan tahun ini.
bunga-bunga pun bangun dari tidurnya yang lelap,
terbasahi embun dan rintik hujan.

Anginku yang halus berhembus tenang,
saat ku lihat anggrek putih di pelataran kebun yang rindang.
Bunga itu selalu cantik, menggambarkan pesona dalam harmoni.
Anginku berhembus perlahan,
aku takut merusak kelopak bunganya yang indah.
Aku urung menampakkan diri, hanya bisa bersembunyi disela dedaunan,
mengamati anggrekku dengan senyuman.

Mungkin endorfinku yang sedang aktif ini,
membawa euforia kebahagiaan diantara rintik hujan dan, kelopakmu..
Bahkan rintik hujan turut bernyanyi, bersenandung memecah angkasa,
senada dengan syair melankoli, tersenyum di sepanjang lorong hati.

Sang Pencipta mungkin telah menggariskan hari ini,
menggariskan setiap detik perjalananku dalam hembusan yang menyejukan,
dalam langkah naluriah, dengan jejak penuh prasangka.
Ya… Sang Pencipta mungkin telah menggariskan,
atas segala harap yang ku ucap disela malam,
dalam untaian doa…
(serial hujan #1)
[cahayaisalmi99.blogspot.com]

Abu Nawas : Pesan Bagi Para Hakim

|| || || Leave a comments



Siapakah Abu Nawas ? Tokoh yang dianggap badut namun juga dianggap
seorang ulama besar ini (sufi), tokoh super lucu yang tiada bandingnya
ini. Abu Nawas yang aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun
750 M di Ahwaz dan meninggal pada tahun 819 M di Baghdad, Irak.
Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Disana ia belajar
bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang Badui padang
pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat
dan kegemaran orang Arab. Ia juga pandai bersyair, berpantun dan
bernyanyi. Ia sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad
bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun
Ar-Rasyid, Raja Baghdad.Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapak Abu Nawas adalah
Penghulu kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya
Abu Nawas yang sudah tua itu sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah raja untuk mengubur
jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang
dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik
mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafaninya, menyalati
dan mendo'akannya. Maka Raja bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi
Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun mendengar rencana sang raja, tiba-tiba Abu Nawas yang cerdas itu
tiba-tiba nampak berubah menjadi gila. Usai upacara pemakaman
bapaknya, Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan
diperlakukannya seperti kuda, ia menunggangi batang pisang itu sambil
berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat
menjadi heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang
cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya dan diatas makam bapaknya
itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita. Kini semua
orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu
Nawas sudah menjadi gila, karena ditinggal mati oleh bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan raja datang menemui Abu Nawas.
"Hei Abu Nawas, kau dipanggil raja untuk menghadap ke istana". Kata
wajir utusan raja.
"Buat apa raja memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya" jawab
Abu Nawas dengan entengnya tanpa beban.
"Hei Abu Nawas, kau tidak boleh berkata begitu kepada rajamu."
"Hei wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil kudaku ini dan
mandikan di sungai supaya bersih dan segar" kata Abu Nawas sambil
menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda olehnya. Si
wajir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. "Abu
Nawas kau mau apa tidak menghadap raja?" tanya wazir.
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau" kata Abu Nawas.
"Apa maksudmu Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu". Serga Abu Nawas sembari mengeruk debu dan dilemparkan ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas, mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada raja Harun Ar-Rasyid.

Dengan geram raja berkata, "Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tidak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan dihadapan raja.
Namun lagi-lagi di depan raja, Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur raja.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas....,"

"Baginda... Terasi itu asalnya dari udang !".
"Kurang ajar kau menghinaku Abu Nawas !
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi ?".

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada pengawalnya.
"Hajar dia ! Pukul dia sebanyak dua puluh lima kali".
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh besar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana, ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dihadang oleh penjaga.

"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu ? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda, maka engkau berkata, aku bagi dua, engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?".
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?".
"Iya, tentu itukan sudah merupakan perjanjian kita?".
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!".
"Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari raja".

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu agak besar, lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja penjaga itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas sudah gila.
Setelah penjaga itu babak belur, Abu Nawas meninggalkannya begitu saja terus ia melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga gerbang kota itu mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Ar-Rasyid.
"Ya Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohon keadilan dari tuanku Baginda.....,





Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan raja, ia bertanya, "Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali?.
Berkata Abu Nawas, "Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu".
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebabnya kau memukuli orang itu?", tanya Baginda.
"Tuanku", kata Abu Nawas. "Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian, bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya, satu bagian lagi untuk saya. Nah, pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya".
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya raja.
"Benar Tuanku" jawab penjaga gerbang itu. " tapi, hamba tidak tahu kalau Baginda memberikan hadiah pukulan".
"Ha ha ha ha.....! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!" sahut Baginda. "Abu Nawas" tidak bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa engkau adalah orang yang suka memeras orang!. Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu, aku akan memecat dan menghukum kau".
"Ampun Tuanku" kata penjaga gerbang itu dengan gemetar.
Abu Nawas berkata, "Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir ditempat ini, padahal hamba tidak bersalah. Hamba minta ganti rugi, seba jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba".
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha ha... Jangan khawatir Abu Nawas".
Raja kemudian menyuruh bendahara kerajaan mengambil sekantong uang perak untuk diberikan kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sampai dirumah, Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari raja mengadakan rapat dengan para menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak aku angkat menjadi Kadi?"....




.....Wazir atau perdana menteri berkata, "Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otoknya, maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain menjadi Kadi".
Menteri-menteri yang lain juga menyatakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila, karena itu dia tidak layak menjadi Kadi".
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari Kadi yang lain saja".
Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka raja Harun Ar-Rasyid mengangkat orang lain menjadi Kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang yang bernama Polan yang sejak lama berambisi ingin menjadi Kadi. Ia mempengaruhi orang-orang disekitar Baghdad untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Raja, maka dengan mudah Raja menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi Kadi, maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. "Alhamdulillah.... aku terlepas dari balak yang mengerikan, tapi sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja".
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Begini ceritanya. Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia, ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya, "Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku".
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Ia cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagaimana anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"
"Katakan dengan sejujurnya, bau kedua telingaku ini".
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali, tetapi yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Wahai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan pada anakmu ini".
Berkata Syeikh Maulana. "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku, yang seorang aku dengarkan keluhannya, tetapi yang seorang lagi karena aku tidak suka, maka tidak aku dengar masalahnya. Inilah resiko menjadi Kadi. Jika kelak kau suka menjadi Kadi, maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi, buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Raja Harun Ar-Rasyid. Tapi tidak bisa tidak Raja pastilah tetap memilihmu sebagai kadi".
Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila, hanya untuk menghindar agar tidak diangkat menjadi Kadi, seorang Kadi atau Penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang raja untuk memutuskan suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal....

[]

Anwar Dan Sang Burung Kecil

|| || || Leave a comments


Bismillahirrahmanirrahiim.

Firman Allah SWT.

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya diatas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." (QS. al-Mulk, 67:19)

Firman Allah SWT.

"tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman." (QS. an-Nahl, 16:79)



Pada suatu hari ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya, tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Setelah makan malam sebelum ia mengerjakan pekerjaan rumah (PR), Anwar bertanya kepada sang ibu apakah boleh mengizinkan dia untuk melihat hujan dulu sebentar. Ibunya lalu mengizinkan Anwar untuk melihat hujan yang turun. Dia melihat dari jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun dengan begitu derasnya. Ada orang yang sedang berjalan dengan memakai payung untuk melindungi diri mereka dari kebasahan air hujan. Air hujanpun telah menggenangi jalan, mobil yang melintas memuncratkan air ke sisi jalan dan orang-orang ada yang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan.

Anwar berpikir betapa menyenangkan berada didalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah yang telah memberinya makan dan rumah sebagai tempat tinggal untuk melindungi dari panas dan hujan serta tempat beristirahat. Pada saat itu juga seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burng yang malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan Anwar segera membukakan jendela.

"Hai namaku Anwar!" katanya. "Kamu boleh masuk kalau kamu mau."

"Terimah kasin Anwar," kata sang burung kecil itu. " Aku ingin menunggu didalam sampai hujan reda."

"Kamu pasti kedinginan diluar sana," anwar ikut merasakan. "Aku belum pernah melihatburung sedekat ini sebelumnya. Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?"

"Kamu benar Anwar, kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki-kaki kami tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, makan akan sulit bagi kami untuk terbang."

"terbang pasti rasanya enak dan sangat menyenangkan." pikir Anwar. "Sayapmu terlllalu tipis juga namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauh tanpa merasa lelah?"

"Saat pertama kali kami terbang, Kami menggunakan banyak sekali tenaga, karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis. Namun, begitu kami diudara kami menjadi santai dengan membiarkan tubuh kami terbawa oleh angin. Jadi, karena kami menghabiskkan lebih sedikit tenaga dengan cara ini kami tidak kelelahan diudara. Itulah kelebihan kami yang telah Allah berikan untuk kami. Kami juga dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh."

Anwar kemudian bertanya, "Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?"

Sang Jelatik menjelaskan: "Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. Jadi begitu kami melihat bahaya didepan, kami dapat menyesuaikan arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. Namun kami dapat menggerakkan kepalakami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami."

Anwar mengerti: "Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?" Tanya Anwar.

"Burung hantu dan burung-burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar," sang jelatik melanjutkan. "Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu pada malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar dapat melihat dengan sangat baik didalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka kedalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan yang diberikan pada burung-burung air, agar mereka dapat dengan jelas melihat kedalam air untuk menangkap mangsanya."

Tidak semua parung burung sama nampaknya, mengapa demikian?" Anwar bertanya lagi.

"Allah menciptakan berbagai jenis burung dengan paruh yang berbeda, sesuai dengan kegunaan dan mudah untuk mencari makan. Paruh kami sesuai dengan sempurna terhadapo lingkungan dimana tempat kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami parah burung pemangsa serangga. Dengan paruh kami yang titpis dapat dengan mudah mengambil cacing yang merayap ditanah dan ulat yang bersmbunyi dibawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh yang panjang dengan berbentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan segala kebutuhan dengan sempurna untuk semua makhluk dibumi dengan memberikan kemampuan yang mereka butuhkann."

"Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih bisa mendengarkan aku berbicara dengan sangat baik. Bagaimana itu bisa?" Tanya Anwar penasaran.

"Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu dan saling memperingatkan setiap adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri terhadap ancaman bahaya yang akan menimpa kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar oleh manusia." Sang jelatik menjelaskan.

Anwar kemudian bertanya lagi: "Kalian para burung suka berkicau dengan suara yang merdu. aku senang mendengar kicauan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?"

Sang burung mengangguk dan menjawab: "Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami didalam lubang pada batang pohon, dan ketika ada musuh yang mencoba medekati untuk masuk, kami mengeluarkan suara yang mendesis seperti suara ular. Penyusup itu berpikir bahwa ada ular didalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami dari para pemangsa."

"Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?"

"Kami membangun banyak sarangtipuan untuk menyesatkan musuh kami," kata sang burung. "DEngan cara ini kami membuat para penyusup tersesat. Dengan demikian kami dapat melindungi sarang dan telur yang telah kami sembunyikan didaerah yang tersembunyi agar tidak dapt ditemukan oleh musuh kami seperti ular yang berbisa. Kami menutup jalan masuk dan membuatnya sangat berliku-liku. Kewaspadaan lainnya adalah memnbangun sarang padan pohon yang cabangnya berduri."

"Bagaimanakah sebagian ada burung yang bisa berenang diair? Dan mengapa mereka tidak semua burung dapat berenang?" Anwar tanpa bosan bertanya.

"Allah telah menciptakan sebagian dari kami ada yang diberi kemampuan untuk berenang dan menyelam didalam air. Dia telah memberikan mereka kaki berselaput jala dengan tujuan agar mereka dapat berenang saat masuk kedalam air. Sebagian lain dari kami memiliki jari tipis tanpa jala. Jadi, selain burung air, burung yang lain tidak dapat berenang."

""Sama seperti sepatu renang!" Anwar berseru. "Saat aku berenang dengan memakai sepatu renang, aku dapat berenang dengan jauh lebih cepat. Ada beberapa burung yang memiliki sepatu renang sejak lahir." kata sang burung.


Saat Anwar dan sang burung kecil sedang berbincang-bincang, ibunya menyuruh Anwar untuk masuk kedalam kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pada saat bersamaan hujanpun mulai reda.

Anwar berkata pada sang burung: "Sekarang aku harus masuk ke kamarku dan mengerjakan pekerjaan rumahku. Besok akuy akan bercerita kepada teman-temanku tentang kemampuan istimewamu dan bagaimana Allah telah menciptakan kalian para bangsa burung melalui karya seni yang kreatif yang sedemikaian sempurna sebagai ciptaannya."

"Hujan sudah berhenti, jadi aku dapat kembali kesarangku," jawab sang jelatik. "Terima kasih telah membawa aku masuk. Dan Anwar, saat kau menceritakan kepada teman-temanmu tentang kami, bisakah kamu sampaikan juga kepada mereka untuk peduli kepada kami dan jangan melemparkan batu kepada kami dan kepada makhluk lainnya?"

"Ya, Insya Allah tentu saja akan aku sampaikan kepada mereka." Anwar setuju. "SEmoga Allah melindungimu."

Anwar membuka jendela dan sang burung segera terbang melayang diudara. Anwar memikirkan kesempurnaan dalam ciptaan Allah dan duduk mengerjakan pekerjaan rumahnya.
[]

Kejadian Kocak Perokok vs Bencong

|| || || Leave a comments

 
 
Mengingatkan menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi, dalam menasehati ternyata ada seninya lho. Tidak perlu esmosi dan lakukan dengan elegan. Seperti yang terjadi dalam kisah kocak berikut ini:
 
Angkot masih menjadi moda transportasi favorit bagi warga metropolis Jakarta dan pinggirannya. Seperti nampak dalam satu angkot berikut dengan mayoritas kaum ibu.
Kejadian unik bermula saat seorang bapak merokok di dalam Angkot. Dengan kondisi penuh sesak asap rokok berhasil menyulut ketidaknyamanan semua penumpang. Tiba-tiba seorang pemuda dengan sopan menegurnya. Di luar dugaan yang ditegur malah marah dan berucap pedas,

“Wah bencong looh… Elo ga ngerokok ya!”
Suasana semakin panas. Berikutnya sang pemuda balik melontarkan jawaban dengan tegas dan elegan. Mau tahu apa yang dikatakannya hingga sang perokok ‘bertekuk lutut’?

 "Coba tunjukkan pada saya kalo ada satu bencong saja yang tidak merokok! Supaya Bapak tahu sebenarnya yang bencong itu siapa?”
Sontak semua penumpang dalam angkot senyum-senyum penuh kemenangan.  Keren juga nich jawaban sang pemuda hingga membuat sang perokok merah padam dan speechless tanpa kata-kata.

Sumber:  Iswandibana.com

Mengapa Ayam Mampu Melihat Malaikat, Sedangkan Keledai Tidak?

|| || || Leave a comments

 
Mengapa Ayam Mampu Melihat Malaikat, Sedangkan Keledai Tidak? - Banyak sudah penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran sabda-sabda Nabi SAW secara ilmiah. Berikut ini adalah salah satunya. Nabi SAW bersabda:

"Bila engkau mendengar suara ayam jantan maka mintalah karunia kepada Allah karena ia melihat malaikat, sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari Setan karena dia melihat setan." (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Kita sering kali mendengar hadits ini tetapi bisa jadi jarang memikirkannya dan tidak terlintas dalam benak kita untuk meneliti secara ilmiah mengapa itu terjadi.

Kemampuan sistem visual manusia di dunia ini terbatas. Dalam hal ini justru kalah dengan sistem visual keledai dan ayam jantan. Pandangan mata manusia terbatas dan tidak dapat melihat apa yang berada di bawah sinar infra merah atau di atas sinar ultraviolet.

Tapi kemampuan indera ayam jantan dan keledai melewati batas itu. Pertanyaannya sekarang, bagaimana keledai dan ayam bisa melihat setan dan malaikat, bukan sebaliknya?

Keledai itu dapat melihat dengan sinar infra merah, sedangkan setan sendiri berasal dari jin yang diciptakan dari api. Artinya, setan termasuk dalam lingkup infra merah. Karena itulah, keledai dapat melihat setan, tetapi tidak bisa melihat malaikat.
Adapun ayam jantan, ia mampu melihat sinar ultraviolet, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya, artinya dari sinar ultraviolet. Karena itulah, malaikat dapat dilihat oleh ayam jantan.

Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa setan melarikan diri saat disebutkan nama Allah. Penyebabnya adalah karena para malaikat datang ke tempat yang disebut nama Allah itu, sehingga setan melarikan diri.

Mengapa setan menghindar bila ada malaikat?

Jawabannya adalah karena setan terganggu bila melihat cahaya malaikat. Dengan kata lain, jika sinar ultraviolet bertemu dengan sinar inframerah di satu tempat, maka sinar merah memudar.

Maha Suci Allah...!
[Islamic Motivation]

[cahayaislami99.blogspot.com]