Showing posts with label REMAJA. Show all posts
Showing posts with label REMAJA. Show all posts

Jangan Biarkan Tangan Itu Merenggutmu

|| || || Leave a comments

          Dunia telah menawarkan gemerlap perhiasannya. Di sana ada sisi-sisi kehidupan yang mengancam kehormatan kaum wanita. Tak layak kita lalai menelaah ancaman itu melalui untaian nasihat untuk mengingatkan setiap wanita muslimah yang menginginkan keselamatan.

          Saudariku muslimah, hendaknya engkau waspada akan bahaya hubungan yang haram dan segala yang berselubung “cinta” namun menyembunyikan sesuatu yang nista. Engkau pun hendaknya berhati-hati terhadap pergaulan bebas dengan para pemuda ataupun laki-laki tak bermoral yang ingin merampas kehormatanmu di balik kedok “cinta.”
Duhai saudariku muslimah –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya padamu– ada hal-hal yang semestinya engkau waspadai : 

1. Tabarruj 
          Hati-hatilah, jangan sampai dirimu terjatuh dalam perangkapnya dan janganlah kecantikan yang Allah anugerahkan kepadamu membuatmu terpedaya. Sesungguhnya akhir dari sebuah kecantikan hanyalah bangkai yang menjijikkan dalam kegelapan kubur dan secarik kain kafan, beserta cacing-cacing yang merasa iri padamu dan merampas kecantikan itu darimu.
Ingatlah saudariku, wanita yang bertabarruj berhak mendapatkan laknat, sebagaimana sabda Rosulullah saw :
“Laknatilah mereka (wanita yang bertabarruj), karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terlaknat.”

Bahkan Rosulullah telah bersabda:
       “Dan wanita-wanita yang berpakaian namun (pada hakekatnya) telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk ke dalam jannah (surga), bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya jannah, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”

           Tidakkah engkau ketahui, duhai saudariku, saat ini wanita telah menjadi barang dagangan yang murah. Buktinya adalah iklan-iklan televisi. Tidaklah engkau melihat iklan sepatu atau alat-alat olahraga, bahkan iklan kolam renang, pasti di sana ditayangkan sosok wanita.
Di manakah gerangan orang-orang yang menuntut kebebasan kaum wanita? Sesungguhnya mereka menuntut kebebasan wanita bukanlah karena simpati atau iba terhadap wanita, justru mereka menuntut kebebasan itu agar dapat menikmati wanita!

Satu bukti bahwa wanita itu tidak berharga di sisi mereka adalah ucapan salah seorang “serigala” tak bermoral. Ia menyatakan: “Gelas (khamr) dan perempuan cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta syahwat.”
Tahukah dirimu, bagaimana para wanita diperdagangkan oleh orang-orang yang menuntut kebebasannya? Seakan-akan mereka berkata:
Janganlah kau tertipu dengan senyumanku
Karena kata-kataku membuatmu tertawa,
Namun sesungguhnya perbuatanku membuatmu menangis.

2.  Telepon. 
          Berapa banyak sudah pemudi yang direnggut kesuciannya dan ditimpa kehancuran dalam kehidupannya? Bahkan sebagian di antara mereka bunuh diri. Semua itu tidak lain disebabkan oleh telepon.
Coba engkau simak kisah ini! Sungguh, di dalamnya tersimpan pelajaran berharga. Ada seorang gadis berkenalan dengan seorang pemuda melalui telepon, kemudian mereka menjalin hubungan akrab. Seiring berlalunya waktu tumbuhlah benih-benih asmara di antara mereka. Suatu hari “serigala” itu mengajaknya pergi. Tatkala ia berada di atas mobil, lelaki itu menghisap rokok.
Ternyata asap rokok itu membiusnya. Setelah sadar ia temukan dirinya berada di depan pintu rumahnya dalam keadaan telah dilecehkan kehormatannya. Ia mendapati dirinya mengandung anak hasil zina. Akhirnya gadis itu bunuh diri, karena ingin lari dari aib dan cela. Sungguh lelaki itu ibarat seekor serigala yang memangsa kambing betina. Setelah puas mengambil apa yang ia kehendaki, ia pergi dan meninggalkannya.

3.  Khalwat          
Semestinya engkau jauhi khalwat, karena khalwat adalah awal bencana yang akan menimpamu, sebagaimana ucapan rosulullah saw:
“Tidaklah seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.”
Apabila setan datang padamu, ia akan menjerumuskanmu dalam musibah. Berapa banyak gadis yang diperdaya oleh lelaki tak bermoral, hingga terjadilah perkara yang keji. Semuanya dikemas dengan label “cinta”.
Ada seorang gadis pergi berdua bersama pasangannya, lalu lelaki itu merayunya dengan kata-kata yang manis. Dikatakannya pada gadis itu, yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. Akhirnya lelaki itu pun mengajaknya pergi ke tempat yang sunyi. Ketika sang gadis meminta untuk pulang, lelaki itu menolaknya, kemudian…

4.  Pergaulan Yang Jelek


rosulullah saw bersabda:
         “Seseorang itu ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman.”
Wahai saudariku, ambillah pelajaran dari selainmu, sebelum engkau mengalami apa yang ia alami. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dapat memetik nasihat dari peristiwa yang menimpa orang lain, dan orang yang celaka adalah orang yang hanya bisa mendapat nasihat dari sesuatu yang menimpa dirinya sendiri.
Akhirnya, segala puji hanyalah bagi Allah Rabb seluruh alam.

(diterjemahkan dari kitab Ukhti Al-Muslimah Ihdzari Adz-Dzi`ab karya Salim Al-‘Ajmi oleh Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim)


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 Tabarruj adalah berhias di depan selain mahramnya.
2  Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad no. 7083 dengan tahqiq Ahmad Syakir. Beliau mengatakan: “Sanad hadits ini shahih.”
3  Diriwayatkan Al-Imam Muslim no. 2128.
4  Khalwat adalah berdua-duaan dengan selain mahram.
5  Shahih Sunan At-Tirmidzi karya Asy-Syaikh Al-Albani no. 1187 dan dalam Silsilah Ash-Shahihah karya beliau juga no. hadits 430.
6 Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, lihatlah Silsilah Ash-Shahihah karya Al-Imam Al-Albani no. 927.

Semoga Bermanfaat ..
* Salam Ukhuwah Islamiyah dari cahayaislami99

SAHABAT, MAAFKAN AKU SAHABATKU...

|| || || Leave a comments


 

Apa kabar jiwamu duhai engkau yang selalu berdiam diri

Apa kabar hatimu duhai engkau yang dulu selalu mengisi hari-hariku

Apa kabar duhai engkau yang selalu ada baik suka maupun duka

Duhai Apa kabar sahabat sejatiku…

Sehat kah Engkau, Baik kah engkau duhai sahabatku…

Sahabat sejatiku…

Teramat lama kita tak saling tegur sapa, walau sekedar ucap “Apa Kabar?”

Teramat lama kita tak bersama lagi, teramat lama pula kita tak saling bersilaturahmi.

Teramat lama aku ingin mengatakan ini, teramat lama pula ku rasakan sepi tanpa dirimu disisiku sahabatku, dan teramat lama pula aku menahan sesak di hati ini.

Teramat lama aku ingin berucap Maafkanlah aku duhai sahabat sejatiku…

Mengapa kau tak saling tegur sapa denganku, mengapa kau tak lagi mau berteman denganku, atau apakah mungkin engkau masih menyimpan luka diantara kita, masihkah engkau merasakan semua itu, masihkah engkau tak mau memaafkan sahabatmu ini?.

Allah saja Maha Memaafkan, mengapa kita tak saling memaafkan, sudah menjadi Tuhan Kecilkah engkau?. Jika tidak maka maafkanlah aku

Bukankah Rasulullah Bersabda “Laa yadkhulul jannah qoothi’un yagni qoothi’u rrohimi : Tidak akan masuk surga bagi orang yang memutuskan tali silaturahmi” (HR. Bukhori & Muslim)

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNYa karena saling meminta satu sama lai, dan periharalah hubungan silaturahmi" (QS. An-Nisaa (4:1)

Bukankah kemarahan adalah api yang sanggup membakar dan menghanguskan. Kemarahan yang bercampur sedih, kecewa, dan putus asa, justru akan membakar dirimu sendiri, membungkam mulutmu, dan mangatupkan bibirmu.

Bukankah kita harus saling memberi maaf terhadap orang yang menyakitimu, bersabar atas ujian dan derita, menahan marah karena marah adalah api neraka yang sanggup membakar jiwamu?

Bukankah bukan kesabaran jika masih mempunyai batas, dan bukan keikhlasan jika masih merasakan sakit?...

Tapi mengapa sampai saat ini kau belum memaafkan aku sahabatku…

Mengapa hanya berucap di bibir saja kata maaf itu, tapi setelah itu kau tak lagi ingin berteman denganku…

Maafkan aku karena kesalahanku terhadapmu,

Maafkanlah aku mungkin aku tak pernah mengerti arti dari persahabatan, yang tak pernah mengukir semua kebaikanmu dihatiku. Maafkanlah aku sahabatku mungkin aku tak pernah adil terhadapmu …

Kini baru aku sadari arti dari sebuah kata Persahabatan, tentang arti kehilangan seorang sahabat sejati,

Aku sungguh sangat bodoh tak mengerti akan arti hadirmu dan hatimu, tak menyadari artinya di hargai dan menghargai dengan cara yang benar yang menurutmu benar dihadapanmu dan tak mengerti akan ketulusan seorang sahabat…

Sahabatku sampai kapan kau akan terus berdiam diri, tidakkah ada maaf darimu untukku…

Kau seharusnya mengerti tak semua hati mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Kapan pintu hati itu terbuka kembali lagi, dimana hati itu selalu tersenyum, tidak seperti saat ini yang selalu membeku seperti es yang tak pernah mencair…

Bisakah hati itu tersenyum kembali untukku sahabatmu ini, tersenyum seperti hati yang selalu mudah tersenyum, tertawa bersama lagi…

Sahabat sejatiku…

Dikala aku terlelap dan terjaga dan ku bermimpi, bermimpi akan kehadiran dirimu

Kau selalu berikan pancaran sinar harapan, tuk bisa tertawa, menangis bersama lagi

Kau ulurkan tanganmu kepadaku, tapi mengapa saat ku raih dan ku temukan bayanganmu,

Kau lambaikan tangan untukku.

Disaat ku tersentak dan terjaga ku tersadar semua hanyalah mimpi.

Dan saat itu pula aku bertanya pada lubuk hatiku kapankah kau kembali sahabatku…

Hai langit, hai bulan, hai bintang. aku merindukan dia sahabatku, sahabat sejatiku…

Buka-kan-lah Hati sahabatku untuk memaafkan segala kesalahanku

Duhai sahabatku, maafkanlah aku, semoga kau tetap terjaga dalam lindungan-Nya Amiin

***

Semoga kata-kata diatas membuka hati Bagi sahabat yang sedang merasa kecewa akan sikap sahabat atau siapapun ,yang tengah merasa tersakiti oleh sahabatmu atau siapapun juga dan kau tak pernah meminta maaf atau pun memaafkannya dengan hati penuh keikhlasan , maka maafkanlah, berilah maaf kepada orang yang menyakitimu, bersabarlah dengan hatimu, sebab sabar akan menerbitkan cahaya dalam hatimu ^_^

saudaraku... saat kita berbuat salah, maka akuilah kesalahan kita dan mintalah maaf atas kesalahan yang kita lakukan kepada saudaramu seiman. hilangkanlah rasa malu dan gengsi untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan.

ketahuilah! Keberanian mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan adalah perbuatan yang terpuji dan disukai oleh Allah Subhanahu Wata'ala.
sahabatku... Dia menunggu Maafmu dan Menunggu Permohonan Maafmu, sekarang temuilah, bersilaturahmilah kepada orang yang telah kau sakiti ataupun yang telah menyakitimu, minta maaf lah dan berilah maaf untuknya. .. Bukankah ada Habluminallah dan Habluminannas, Insyaallah engkau pun mendapat Maaf dari Allah Subhanahu’wata’ala…

Tiada ungkapan perpisahan dalam persahabatan walaupun maut menjadi pemisahnya, karena seorang SAHABAT itu terlalu istimewa dalam do’a saudaranya yang lain tanpa bayangnya

[]
CAHAYAISLAMI99.BLOGSPOT.COM

Ketika Galau Melanda

|| || || Leave a comments






Galau.. ..
Saya pribadi sebenarnya juga awalnya berpikir apa sih makna galau tersebut? 
Tidak tau siapa yang membuat tren ataupun menciptakan kata “Galau” tersebut.

Yang saya ketahui sampai sekarang belum ada kata “Galau” masuk dalam (KBBI) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tidak penting untuk tahu siapa penciptanya, dan who cares kata ini ada di kamus apa tidak.
Yang lebih penting buat kita daripada tahu arti kata “Galau” adalah untuk tidak merasakan galau itu sendiri. Walau sebenarnya “Galau itu Wajar” dialami oleh seluruh umat manusia. Dari anak kecil, remaja, dewasa, para orangtua.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah bingung, yang tidak pernah merasa ‘down’. Galau lumrah terjadi di mana-mana dan oleh siapa saja. Siapa saja bisa terkena virus galau. Jadi, wajar kalau kita semua pernah merasa galau.

Tapi, kalau galau ya jangan lama-lama. Gimana caranya?

Nah, ini dia solusinya. Pada saat saya menjalani Morba (Masa Orientasi Relawan Baru), saya mendapatkan satu pelajaran yang begitu bermakna. Sebut saja nama beliau “Mas Budi”. Ternyata Galau Itu GAWAT. Beliau mengangkat satu topik yang sangat penting yang sering diderita oleh anak muda saat ini. Yaph, Beliau membahas tentang “Anti Galau”.

Sebagai orang bijak, mari kita modifikasi kata Galau ini.“GALAU. God Always Listening And Understanding” tutur beliau saat membawa materi. Dari modifikasi kata tersebutlah kata “Galau” jugalah obat dari kegalauan yang dialami.

Tapi ingat sobat, tidak ada cobaan yang diberikan Allah di luar batas kemampuan hamba-Nya. Berusaha dan berdoalah dalam setiap tindakan. Allah pasti akan mendengar dan mengerti bagaimana kita.

Ketahuilah bahwa kita masih memiliki Allah. Allah yang selalu mendengar dan mengerti kita. Nah, sebagai hamba yang mengikuti ajaran Al-Quran dan As Sunnah. Beliau memberikan beberapa obat galau dari beberapa ayat yang ada di Al- Quran, di antaranya:
  • Jika kita sedih: QS. 2: 25
  • Orang sombong menantang kita: QS. 25: 13
  • Bosan susah dan sulit: QS. 94: 05
  • Bebas dari ketakutan: QS. 03: 135
  • Butuh jaminan ganda: QS. 15: 43
  • Merasa seperti pecundang: QS. 12: 87
  • Merasa tidak dihargai: QS. 76: 22
  • Merindukan teman: QS. 50: 16
  • Mencari cinta dan tenang: QS.30: 21
  • Jika kita tertekan: QS. 13: 28
  • Mencari kedamaian: QS. 05: 16
  • Mencari teman: QS. 02: 257
  • Jika kita berdosa: QS. 39: 53
“Walau hujan badai kan terus melanda, walau arus gelombang tak henti menerjang, walau kadang mencekam. walau mentari kan membakar. Jangan letih menapaki kehidupan. Ujian bagaikan terik sinar sang surya. Hadir ke dunia bersama berjuta karunia.

Janganlah bertekuk lutut dalam pelukan putus asa, janganlah bersimpuh di hadapan gundah. Hadapilah segala tantangan, sambutlah harimu dengan suka cita.

Hadapilah segala ujian, dalam kesulitan pasti ada kemudahan” tutur Mas Budi untuk membuat semua orang terus bersemangat.

Galau itu boleh, tapi tidak boleh berlarut-larut. Ingat, ada Allah yang senantiasa mendengarkan dan mengerti kita. So, buat sobat semua “Don’t be Galau” ya..


Oleh: Trioki Ningsih
[Dakwatuna]

Pacaran itu Tidak Nikmat dan Tidak Spesial

|| || || Leave a comments


Pacaran itu Tidak Nikmat dan Tidak Spesial
Mana yang lebih enak?
Menyentuh wanita setelah nikah ataukah sebelum nikah?
Memandang wanita setelah nikah ataukah sebelum nikah?
Berboncengan berdua setelah nikah ataukah sebelum nikah?
Jalan berdua bergandengan tangan setelah nikah ataukah sebelum nikah?
Kata-kata mesra lebih menyenangkan diucapkan setelah nikah ataukah sebelum nikah?
Saya simpulkan:
Kalau sudah disentuh sebelum nikah, sudah tidak ada nikmatnya lagi setelah nikah.
Kalau sudah dipandang sebelum nikah, sudah tidak ada deg-degannya lagi setelah nikah.
Kalau berboncengan sudah biasa sebelum nikah, sudah tidak ada lagi spesialnya setelah nikah.
Sama juga dengan jalan berdua.
Apalagi sudah berzina lebih dulu.
“حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات”
Surga itu dihiasi dengan perkara-perkara yang dibenci sedangkan neraka dihiasi dengan hal-hal yang disukai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Think!
Kalau gitu …
Ngapain pacaran bertahun2?
Kalau gitu …
Ngapain tidak segera dinikahi saja wanita pilihannya?
Biar dapat hal spesial dan nikmat di atas, daripada terus menerus dalam kubangan dosa.
_________________________________________________________________________________________
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

awas,,,Si Merah Jambu Mengancammu

|| || , || Leave a comments





Assalamu alaikum wr wb,,

Ikhwan dan Akhwat yang di rahmati Allah swt,
BAGAIMANA JIKA KITA TERLANJUR PACARAN,,? KALO KITA PUTUSKAN NTAR PACARKU MARAH,,!! DIA PIKIR NANTI AKU UDAH GAK SAYANG SAMA DIA,,!!

wahai saudara(i)ku yang senasib dan seperjuangan,,
Jika kalian terlanjur pacaran, dan sanggup untuk menikah,, maka menikahlah secepatnya, dan jika tidak sanggup menikah sekarang,, maka demi Allah yang nyawa kita ada d genggaman-Nya,,!! tinggalkanlah perkara tersebut,,! apakah kalian lebih takut kalo PACARNYA MARAH ATAU ALLAH YANG MURKAH,,,??
pikirkanlah baik,, ^_^

afwan,, hanya itu pesan saya,, ^_^


Adapula perbedaan taaruf dengan pacaran adalah sebagai berikut:

1. Tujuan
• taaruf (t) : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
• pacaran (p) : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah ...

2. Kapan dimulai
• t : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
• p : saat sudah diledek sama teman:"koq masih jomblo?", atau saat butuh temen curhat, atau saat taruhan dengan teman.

3. Waktu
• t : sesuai dengan adab bertamu.
• p : pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa.

4. Tempat pertemuan
• t : di rumah sang calon, balai pertemuan, musholla, masjid, sekolahan.
• p : di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik.

5. Frekuensi pertemuan
• t : lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
• p : lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu. Kalo bisa lebih.

6. Lama pertemuan
• t : sesuai dengan adab bertamu
• p : selama belum ada yang komplain, lanjut !

7. Materi pertemuan
• t : kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.
• p : cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.

8. Jumlah yang hadir
• t : minimal calon lelaki, calon perempuan, serta seorang pendamping (bertiga). maksimal tidak terbatas (disesuaikan adab tamu).
• p : calon lelaki dan calon perempuan saja (berdua). klo rame-rame bukan pacaran, tapi rombongan.

9. Biaya
• t : secukupnya dalam rangka menghormati tamu (sesuai adab tamu).
• p : kalau ada biaya: ngapel, kalau ngga ada absent dulu atau cari pinjeman, terus tempat pertemuannya di rumah aja kali ya? tapi gengsi dong pacaran di rumah doang ?? apa kata doi coba ??

10. Lamanya
• t : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
• p : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

11. Saat tidak ada kecocokan saat proses
• t : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan menyebut alasannya.
• p : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya. Dan pastinya akan ada yang sakit hati,,!

wallahu A'lam,,,

artikel: cahayaislami99.blogspot.com

5 Sebab Mengapa Pelajar Mengantuk Di Kelas?

|| || || Leave a comments






Sebut sahaja ceramah, semua akan mengantuk. Benar? Ya, saya percaya anda semua turut mengalaminya. Bukan saya seorang, bukan kepada ibu-ibu, tidak hanya golongan remaja bahkan semua di dunia ini pasti mengalami.

Bagi yang sedang berada di alam persekolahan atau pun universiti, suasana di dalam kelas dan dewan kuliah sudah tentu membuatkan anda semua mengantuk, terutama ketika guru dan pensyarah sedang mengajar. Mengapa boleh jadi begini?

Kali ini, saya akan bawakan 5 sebab utama mengapa pelajar-pelajar mengantuk di dalam kelas.

Tiada Persediaan

Ya, ramai di kalangan pelajar tidak kira di alam persekolahan atau pun ketika di alam universiti yang tidak membuat persediaan yang cukup sebelum ke kelas. Apabila anda tidak membaca dahulu apa yang akan diajar oleh guru dan pensyarah pada hari tersebut, anda akan cepat hilang tumpuan. Yalah, apa yang diajar oleh guru anda tidak pernah pun tahu. Bagaimana mahu rasa seronok? Macamana ingin merasa mudah ketika guru mengajar? Justeru, pastikan anda membaca dahulu apa yang akan disampaikan oleh guru atau pensyarah pada hari tersebut sebelum ke kelas.

Kurang Tidur

Ramai yang beranggapan bahawa, tidur lewat adalah jalan penyelesaian terbaik untuk score di dalam peperiksaan. Ya, benar. Ramai orang berjaya yang berbuat demikian. Tidur lewat untuk mengulangkaji pelajaran. Tapi lebih ramai orang berjaya yang tidak mengamalkan kaedah sedemikian. Apabila anda tidur lewat, anda akan mengantuk di dalam kelas. Dan apa yang cikgu dan pensyarah ajar anda akan kurang faham. Justeru mengapa tidur lewat?

Tidak Fokus

Percayakah anda kalau saya katakan bahawa lebih separuh peratus pelajar-pelajar yang tidak memberikan perhatian ketika guru atau pensyarah mengajar di kelas. Kelas dan dewan kuliah bukan tempat untuk anda berangan atau membiarkan fikiran anda bebas menanar ke mana-mana. Pensyarah, guru perasan kalau anda berangan. Pensyarah nampak. Justeru, sebelum ke kelas, ikhlaskan hati. Betulkan semula niat. Ya, aku hendak ke kelas untuk mengutip seberapa banyak ilmu. Buat begitu, insyaAllah segala yang diajar akan lekat di minda.

Kurang Minat

Mengapa tidak minat? Bosan? Kalau anda ingin berjaya, anda harus minat. Ya, anda wajib untuk menyukai setiap pelajaran dan subjek yang anda ambil. Apa guna anda belajar subjek berkenaan jika anda sendiri tidak minat subjek itu. Ingat, sesuatu yang sukar itu seringkali bermula dengan yang sukar-sukar. Kuatkan hati, tanamkan azam yang jitu. Tambahkan minat terhadap mata pelajaran yang kurang diminati. Lakukanlah apa sahaja untuk memastikan anda minat dan seronok terhadap tajuk dan subjek berkenaan.

Fizikal dan Mental

Ya, kekadang itu kita tidak sedar bahawa mental dan fizikal kita juga perlu rehat yang mencukupi. Dapatkah anda bayangkan sebuah kereta yang bergerak 24 jam tanpa henti dan ia terus bergerak lagi untuk 24 jam yang seterusnya tanpa henti. Apa akan terjadi? Ya, begitu juga tubuh kita. Manusia bukannya robot. Robot juga kalau tidak digunakan dengan sebaiknya akan rosak. Justeru, pastikan anda mendapat rehat yang secukupnya. Rehat fizikal, rehat juga minda. Buanglah segala masalah yang sedang melanda dan mengusutkan anda. Semoga anda menjadi manusia paling berjaya!

Makna Persahabatan

|| || || Leave a comments


Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,­demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak­,namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.


Sumber: [beritaunik]
MENATA AKHLAQ Menuju Ridha dan Cinta-NYA

Agar Persahabatan Tidak Menjadi Permusuhan

|| || || Leave a comments

Sesungguhnya bukanlah perkara yang gampang untuk membuat relasi persahabatan karena Allah dengan seseorang.

Relasi tersebut bukanlah barang yang bisa dibeli…akan tetapi itu adalah anugerah dari Allah dengan sebab usaha pendekatan karena iman.

Karenanya hendaknya kita berusaha untuk menjaga jalinan persahabatan. Yang perlu diingat adalah janganlah kita menganggap sahabat kita adalah malaikat yang tidak pernah bersalah, sehingga setiap kali ia berasalah lantas kita mencelanya.

Sikap seperti ini adalah bentuk perenggangan bahkan bisa jadi pemutusan persahabatan, serta bentuk "kurang penghargaan" terhadap karunia relasi persahabatan tersebut yang merupakan anugerah Allah.

Basyaar bin Burod berkata
Jika Engkau pada setiap perkara selalu mencela sahabatmu…

Maka engkau tidak menemukan sahabat yang tidak kau cela


فَعِشْ وَاحِدًا أَوْ صِلْ أَخَاكَ فَإِنَّهُ ...... مُقَارِفُ ذَنْبٍ مَرَّةً وَمُجَانِبُهُ

Jika demikian maka hiduplah engkau sendirian…

Atau jalinlah persahabatan dengan saudaramu karena sesungguhnya ia terkadang melakukan kesalahan dan terkadang menjauhi kesalahan

(Lihat Taariikh Baghdaad 7/610, tahqiq Basyaar 'Awwaad)

Ia juga berkata :

وَمَنْ ذَا الَّذِي تُرْضِي سَجَايَاهُ كُلُّهَا ...... كَفَى بِالْمَرْءِ نُبْلاَ أَنْ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ

Dan siapakah yang seluruh perangainya menyenangkan (orang lain)….??

Cukuplah seseorang dikatakan mulia jika aibnya masih terhitung

Yang lain berkata :

تُرِيْدُ صَاحِبًا لاَ عَيْبَ فِيْهِ ..... فَهَلِ الْعُوْدُ يَفُوْحُ بِلاَ دُخَانِ؟

Engkau ingin memiliki seorang sahabat yang tidak ada kesalahannya sama sekali??

Maka apakah kayu gaharu bisa mengeluarkan harum wanginya tanpa ada asapnya??


Hendaknya kita bersabar dengan kesalahan sahabat kita dengan tetap berusaha menasehatinya….

Akhirnya….selamat menjalin persahabatan karena Allah, semoga Allah mencintaimu karena persahabatanmu tersebut.
Artikel Firanda.com

TEMAN DAN SAHABAT

|| || , || Leave a comments


Persahabatan itu seperti jalinan ukhuwah yang sulit untuk dijelaskan, aku menyayangi sahabatku sama seperti aku menyayangi saudaraku, aku menganggap sahabat adalah keluarga yang kita buat sendiri, keluarga yang kita temukan dalam perjalanan kehidupan. itulah cara allah membuat sesama muslim menjadi saudara bahkanmenjadi keluarga.
Teman dan sahabat adalah dua hal yang berbeda, teman dapat kita peroleh dimana saja dan siapa saja yang mungkin belum tentu mengerti kita, tapi sahabat adalah teman yang setia, mengerti dan sangat memahami bahkan mengenal pribadi kita dengan baik, aku berteman dengan sahabatku yang sekarang karena takdir Allah yang mempertemukan kami saat SMA dulu, berbagai rasa telah kami rasakan bersama bahkan selama 9 tahun persahabatan kami tetap lancar walau kini kami sudah bukan anak remaja lagi seperti dulu.


Kata orang zaman dulu bahkan petuah tetua mengatakan"jangan pilih-pilih dalam berteman" aku sedikit tidak setuju dengan pendapat mereka, bagiku semua orang harus memilih siapa yang akan menjadi temanya, alasanya karena sesorang akan dinilai dengan siapa dia berteman, dan seseorang akan menjadi seperti apa itu karena siapa temanya, misalkan jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan terciprat baunya, maksudnya jika kita berteman dengan yang baik maka kita akan menjadi baik, kalau kita berteman dengan orang yang buruk tentu kita juga akan menjadi seperti mereka, jadi menurutku kita harus memilih dengan siapa kita akan berteman.

sahabatku mengajarkanku banyak hal, ia mendekatkan aku pada sang pencipta, ia adalah sahabat yang selalu menguatkan dan mengingatkan ketika aku salah dan alpa, seperti itulah ukhuwah yang indah seharusnya dibangun, dengan kasih sayang, indah berbagi,  saling mengingatkan dan menguatkan.
[mylesson]

Sepucuk Surat Untuk Temanku

|| || || Leave a comments

Syukur dan tahmid terbingkai indah dalam sanjungan hamba untuk Dzat Yang Maha Pemurah. Dia-lah, dengan taufik dan hikmahnya, yang memilihkan derajat tinggi untuk hamba atau hina berkepanjangan.
Shalawat serta salam terangkai elok dalam doa hamba kepada baginda agung, Muhammad bin Abdillah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lah, dengan penuh kasih sayang, yang telah mengarahkan jalan-jalan mudah menuju keabadian surga.

Kawan…
Lama sudah rasanya kita tidak berjumpa. Ada rindu yang mengejar sebenarnya, jika sekian waktu berpisah. Sebab, engkau adalah kawan dekatku. Karena, kita pernah berjalan dan hidup bersahabat.

Namun, itu dahulu kala…
Saat kita masih disatukan oleh majlis ilmu. Saat semangatku dan semangatmu dalam thalabul ‘ilmi bagai banjir bandang tak terbendung. Ya, momen-momen indah kita dalam suka duka belajar agama.

Kawan…
Masihkah teringat olehmu? Saat orangtua kita terlihat marah karena cara berpakaian kita yang berubah. Apalagi ketika kita mulai senang dan gemar menilai segala sesuatu dengan pandangan agama?
Dan, orangtua kita pun akhirnya memaklumi. Sebab, kita masih berdarah muda. Suka dengan hal-hal baru dan menantang.
Masihkah pula engkau teringat? Saat nama-nama kita dipanggil dalam sebuah dewan guru. Karena kita terlambat masuk kelas demi menegakkan shalat zhuhur berjama’ah?
Dan, akhirnya kita pun menang. Sebab, sebagian guru pun mendukung. Sekali lagi, sebab kita masih muda. Semangat dan sikap idealis kita begitu tinggi.

Kawan…
Masihkah engkau seperti yang dulu? Bersemangat membara untuk fokus belajar ilmu-ilmu agama?

Kawan…
Engkau begitu cerdas. Daripada menghafal rumus dan aksioma dalam ilmu matematika, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal al-Qur’an.

Engkau sungguh pintar. Daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo dan familinya, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam lengkap dengan  sanadnya? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal hadits.
Engkau benar-benar pandai. Daripada engkau menghafal vocabulary dan rumus-rumus tense dalam Bahasa Inggris, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal mufrodat Bahasa Arab dan menguasai tata Bahasa Arab? Aku yakin engkau dapat menjadi seorang ahli nahwu dan sharaf.

Engkau memiliki kekuatan mengingat yang tinggi. Daripada engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam lintasan sejarah romawi dan daratan eropa, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam? Aku yakin engkau mampu menjadi seorang ahli tentang sejarah Islam.

Kawan…
Dengan kemampuan, kecerdasan dan kemauan juga tentu dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, aku yakin engkau bias menjadi seorang pembimbing agama.

Namun…

Dimana engkau sekarang?

Kemana engkau pergi?

Apalagi yang sedang engkau kejar?

Kawan…
Sedih rasanya saat mendengar tentangmu kini. Cahaya ilmu di wajahmu telah tertukar dengan gelapnya dosa. Sujud dan rukukmu yang lalu telah berubah menjadi langkah-langkah cela. Doa dan dzikirmu telah berganti nada dan lagu.

Engkau bukan yang dahulu lagi.

Kawan…
Sepucuk surat ini aku rangkaikan untukmu. Moga-moga engkau teringat kembali akan tekad dan cita-citamu untuk menjadi seorang ‘ulama, penerang umat manusia.

Sungguh, do’aku selalu ada untukmu.


Disalin dari:
Pemuda di Warna-warni. Tholabul ‘Ilmy, karya Al Ustadz Abu Nashim Mukhtar “Iben” Rifai La Firlaz.

[mahasiswa]

TIPE WANITA YANG HARUS UNTUK DILAMAR

|| || ,, || Leave a comments

Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,
“Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).
Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar
Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

(1) Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.
Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

(2) Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.
Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

(3) Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,
Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.
Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,
Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.
Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

(4) Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah.”

(5) Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

(6) Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.
Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,
“Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).
Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

(7) Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.
Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.
——–
Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

JODOH, DIPILIH ATAU MEMILIH?

|| || , || Leave a comments
JODOH, DIPILIH ATAU MEMILIH?
~ Sebuah Ringkasan ~
gandengan

PERTAMA: Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya. Tahu darimana?
Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran: Maryam dan Asiah.
Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? NO!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

KEDUA: Bagaimana pandangan tentang jodoh?
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.

KETIGA: Bagaimana tentang nasib dalam perjodohan?
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya.
Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.

KEEMPAT: Bagaimana tentang hal nafkah rezeki?
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.

KELIMA: Bagaimana cara menjemput jodoh?
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.

KEENAM: Bagaimana tentang taaruf?
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup.
Rumus terpenting: Jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.

KETUJUH: Bagaimana cara mengenali calon pasangan yang baik?
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni interaksinya ke Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.

KEDELAPAN: Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat. Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensinya satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.

KESEMBILAN: Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar.
Silakan pilih: Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya berlalu.
Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup.
Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.

KESEPULUH: Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?
Semoga bermanfaat….
By:Ustadz Salim A Fillah
[ayonikah]
[terimakasih sudah berkunjung di cahayaislami99.blogspot.com]

Bukan Cinta Cinderella

|| || , || Leave a comments


 

Cintaku bukan cinta cinderella
Bukan pula cintanya cleopatra
Ku tak ingin mengobral cinta
Atas nama ta'aruf saja...


Jaga hatimu jika kau sungguh cinta
Kuatkan agama di atas segalanya
Kelak jika ditakdirkan bersama
Ikat cintaku sebagai surga dunia...

Chorus: Jangan kau coba-coba untuk menggoda
                   Apalagi ucapkan kata cinta
                   Sebelum Mahar kau berikan
                   Sebelum halal cinta diikrarkan

                   Jangan keruhkan telaga jiwamu
                   Jangan buramkan cermin hatimu
                   Jangan kau retakkan perisai qalbu itu
                   Karena mencinta yang belum menjadi hakmu

[cahayaislami99.blogspot.com]

Allah, Siapa jodohku???

|| || , || Leave a comments


“Allah, Siapa Jodohku?”,...
 Terkadang pertanyaan semacam ini sering terbersit di benak kita, terlebih ketika kita menyadari usia yang terus beranjak, dan kita sudah tidak muda lagi. Hmm…, masalah jodoh memang penuh misteri.., dan hanya Allah yang mengetahui siapa jodoh kita dan kapan kita akan di pertemukan dengannya. Tapi yakinlah sahabat, Allah pembuat scenario terbaik, sutradara terbaik dalam kehidupan ini. Allah sudah menetapkan jodoh kita di Lauh Mahfudz sana, jauh sebelum kita lahir ke dunia ini. Tugas kita sekarang adalah meningkatkan ikhtiar. Meningkatkan kualitas diri sehingga Allah berkenan memberikan kita pasangan yang shaleh/shalehah.

Jodoh memang penuh misteri, dan terkadang penuh kejutan. Ada yang telah melalang buana ke berbagai penjuru daerah, ternyata jodohnya adalah tetangga sendiri, teman sekolah, teman kuliah, teman kantor, teman organisasi di kampus atau bahkan teman di FB. Ada yang baru ketemu sekali dan merasa cocok kemudian memutuskan untuk menikah. Ada juga yang pacaran bertahun-tahun tapi ternyata tidak berjodoh, malah jodohnya adalah orang yang baru dia temui . Ada yang menikah karena di jodohkan oleh kedua ortu, di kenalkan oleh teman, atau melalui proses Murabbi atau Murabbiyah. Ada yang menikah di usia dini, ada juga yang harus menunggu sampai usia 30/40 tahun. Ada yang pertama kali berinteraksi, langsung mengetahui bahwa dia jodohnya. Ada pula yang sudah kenal sebelumnya dan tidak pernah menduga, ternyata berjodoh. Jodoh benar-benar misteri, apakah kita akan berjodoh dengan orang yang belum dikenal sebelumnya atau bahkan orang yang sudah kita kenal dan dekat di sekitar kita. Tinggal kita yang memilih akan menjemput jodoh yang disertai keberkahan atau tidak. Apapun ikhtiar yang dilakukan, semoga menuai berkah Allah.



Jika di awal jalan menuju pernikahan saja sudah tidak berkah, maka mungkinkah keberkahan berumah tangga akan terwujud? Jika sebelum menikah kita telah melakukan hal-hal yang Allah haramkan, seperti pacaran, atau bahkan melakukan zina, mungkinkah kelak kita berhak mendapatkan pasangan yang shaleh/shalehah. Bukankah kita sudah yakin dengan janji-NYA yang tertuang seperti ini dalam ayat cinta-NYA? “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-nuur [24] : 26). Semoga kita bisa menjaga keberkahan proses dari awal hingga akhir.

Dalam ikhtiar menjemput jodoh, kita harus YAKIN bahwa jodoh kita takkan pernah tertukar. Kita pun harus menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan terkait jodoh ini, selalu istikharah memohon petunjuk-NYA. Dan yang tak kalah penting, perbanyak amal shalih, semakin dekat ke Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarangNYA. Tidak bermaksiat ketika proses menjemput jodoh itu berlangsung. Tidak ada jalan berdua yang akan mendekati zina. Jadi, hal yang paling tepat untuk dilakukan dalam penantian bertemu dengan jodoh hanyalah memperbaiki diri. Yakinlah, ketika diri ini sedang berusaha memperbaiki diri, maka ia-pun yang entah berada di belahan bumi yang mana, yang telah tertulis dalam kitabNYA, juga sedang berusaha memperbaiki diri. Dan semoga Allah mempertemukan kita dengannya dalam kondisi keimanan terbaik yang mampu untuk diusahakan.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam ikhtiar menjemput jodoh. Selain berikhtiar mencari atau meminta dicarikan pendamping hidup, satu hal yang paling penting adalah mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan. Bukan, bukan persiapan hari H resepsi pernikahan yang cuma satu hari yang aku maksudkan di sini. Tapi, hari-hari setelah hari H: sudah siapkah kita menjadi seorang suami/istri, sudah siapkah kita menjadi ayah/ibu, sudah siapkah kita menjadi seorang menantu, sudah siapkah kita menjadi adik/kakak ipar, sudah siapkah kita menjadi bagian dari keluarga besar suami/istri kita, dan sudah siapkah kita menjadi seorang tetangga? Dan pertanyaan utama yang patut dipertanyakan adalah akan dibawa ke mana bahtera rumah tangga kita nantinya??

Maka, Sahabat, mari kita menunggu saat itu tiba dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan saja menyiapkan diri menuju gerbang pernikahan, tapi juga menyibukkan diri dengan amanah yang saat ini kita emban. Jangan sampai kita focus menyiapkan diri menuju pernikahan tapi malah menelantarkan apa-apa yang saat ini Allah amanahkan kepada kita.
[goresan]

Arti Menikah

|| || , || Leave a comments



Menikah ...
Bukan sekadar membentuk tim kerja untuk menghasilkan uang untuk membeli segala jenis harta yang melimpah ...
Bukan sekedar sarana belajar memasak, menjahit bagi istri dan sarana belajar membetulkan peralatan listrik bagi suami ...

Menikah ...
Bukan sekedar menyamakan hobi dan kegemaran sehingga sampai ada adagium humor: Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng ...
Kalau sama-sama suka seafood berarti masa depan cerah ... That simple ?!

Menikah bukan sekedar itu …
Menikah berbeda dengan perumpamaan sepasang sandal, yang hanya punya aspek kiri dan kanan ...


 Bukan sekedar pesta yang riuh oleh kerabat, relasi penting, bukan ajang pamer tamu kehormatan, panggung megah, dekorasi wah atau pesta yang meriah.

Menikah adalah penyatuan dua manusia.. pria dan wanita.Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.

Namun ...
Menikah adalah ...
Menyatukan dua isi kepala, dua ide, dua impian menjadi sesuatu yang besar - Bermakna - tak hanya untuk kita, pasangan dan keluarga namun juga untuk orang lain di sekitar kita.

Menikah adalah ...
Memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan kapal pesiar gemerlap memanggil-manggil.

Menikah adalah ...
Cara meraih sempurnanya agama, hingga menikah dikatakan sempurna menjalani setengah dien (agama).

Menikah adalah ...
Keberanian untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Memupuk toleransi tingkat tinggi dan memaklumi pasangan apa adanya ...

Menikah membutuhkan kelapangan hati untuk melebur kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’.

Menikah adalah ...
Proses pendewasaan seseorang untuk lebih berani mengambil sikap dan memutuskan bahkan untuk urusan terkecil sekalipun.
Kerjasama hebat untuk bergerak, bersinergi untuk mendapatkan tiket surga-Nya.

Menikah adalah ...
Universitas kehidupan dimana cobaan materi, hati, iman adalah ujiannya.

Menikah adalah ...
Belajar memaafkan dan belajar berkata “baiklah, itu salahku, akan kucoba memperbaikinya” .
Belajar berkomunikasi dua arah, dimana kita tidak berbicara :
”Kamu harus mengerti keinginanku!’, namun harus berani bicara “aku memahami kamu, aku memahami apa yang kamu mau dan cita-citakan, mari bersama membangunnya”.

Menikah ...
Mengajari kita begitu banyak tentang hidup, tentang bagaimana mencintai Allah dengan sempurna melalui kecintaan kita pada pasangan.



          Semoga artikel tentang Arti Menikah ini bisa bermanfaat, menginspirasi dan bisa menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita. Aamiin

* Salam Ukhuwah Islamiyah dari Andi Ibnoe Badawi Mazid

Ciri Sahabat Sejati

|| || || Leave a comments
 
Sahabat. Kata ini sudah terlalu akrab ditelinga kita. Hampir seluruh orang di dunia ini memiliki sahabat, walau ada juga yang mengaku tidak mempunyai sahabat, adanya pasangan. Entah apapun itu, kita sebagai makhluk sosial tentu memerlukan sosok yang dapat dijadikan teman hidup bersama. Tapi ingat, sahabat bukan pasangan. Sahabat adalah seseorang yang telah ada bersama kita baik di kala susah ataupun senang. Kadang, arti sahabat dan teman dibedakan. Sahabat adalah mereka yang dekat, sangat dekat dengan kita, sedang teman adalah sebatas kenalan. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan ,”Dikala senang, teman-teman mengenal kita. Dikala susah, kita mengenal siapa sahabat kita.”

Nah, lalu bagaimana islam memandang sahabat? Islam meninggikan ikatan persahabatan yang disebabkan karena Allah. Salah satu sebab mendapatkan naungan Allah di hari dimana tidak ada naungan selain dari-Nya. Bahkan, Islam menganjurkan kita untuk berteman dengan orang-orang yang baik dan sholeh agar kita ikut terbawa menjadi baik dan sholeh. Saling mengunjungi dalam rangka mengikatkan ikatan persahabatan bahkan menjadi salah satu sebab mendapat cinta Allah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , diceritakan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.”

Karena itu, Imam Syafi’i pernah berkata jika kita memiliki sahabat-sahabat yang baik, sholeh, bahkan dapat membantu meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala jangan dilepas karena sulit mencari sahabat seperti itu dan sahabat seperti itulah yang dapat menghantarkan kita ke syurga.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia. Maka mereka pun bertanya kepada Allah SWT, ‘Ya Rabb .. kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…’, maka Allah berfirman ‘Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah.’” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd)


Subhanallah. Bukankah kita ingin ke Syurga? Bukankah Syurga adalah sesuatu yang kita damba-dambakan di dunia? Karena itu, wahai saudaraku, mari kita bersama-sama perbanyak teman-teman mukmin. Ibnul Jauzi bahkan pernah berpesan kepada para sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, ‘Wahai Rabb kami … hamba MU fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah ia bersama kami di syurga-MU’.”


Karena itu, aku pun ingin sekali mengatakan kepada kalian wahai sahabatku, jika kelak kalian tidak menemukanku di Syurga, maka sudilah kiranya kalian bertanya tentang aku kepada Allah Aza wa Jalla dan semoga Allah ridha memberikan pertolongan dan menyelamatkanku dari api neraka.


Lantas, apakah ini berarti kita tidak boleh berteman dengan orang yang tidak soleh bahkan non-muslim? Tidak juga. Kita boleh saja berteman dengan mereka dalam rangka mengajaknya dalam kebaikan serta menjaga batasan tertentu dengan mereka yang non-muslim. Saling menghormati dan bertoleransi adalah suatu sikap yang wajib dan harus diterapkan dalam rangka menegakkan persahabatan antar umat beragama. Yang jelas, berteman dengan mereka yang seaqidah dan orang-orang soleh adalah kewajiban dalam rangka tetap menjaga ketaatan kepada Allah SWT.


Dalam hal muamalah, islam juga memberi gambaran tentang ciri sahabat sejati. Hal ini seperti ditunjukkan oleh perkataan Imam Ghazali tentang 12 ciri sahabat sejati.
Menurut beliau, seseorang dapat disebut sebagai sahabat sejati jika termasuk kedalam ciri-ciri berikut:

1. Jika engkau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
2. Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu.
3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
5. Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu.
12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.



So, ingatkah kita kapan terakhir kali kita ada dalam kesulitan? siapa yang ada berada disebelah kita? Siapa yang ada disamping kita, mencoba menghiburkan kita disaat kita merasa tidak dicintai? Hati-hati! Mungkin dialah sahabat sejati kita.

Tetapi jangan terlalu berharap, jangan terlalu bermuluk-muluk ingin mendapatkan sahabat sejati jika kita sendiri belum bisa menjadi sahabat sejati bagi orang-orang disekitar kita. Karena sejatinya, persahabatan itu dibentuk bukan karena saling tuntut, tapi ia lahir karena ada rasa untuk terus memberi, membantu serta menghibur orang disekitar dengan ikhlas, menjadi sahabat sejati bagi setiap orang.

Wallahu a’lam. Semoga kita telah memiliki seorang sahabat sejati kita yang selalu ada disaat kita dalam kondisi apapun, yang sudi bertanya kepada Allah tentang kita di Syurga nanti. Aamiin.

TTM (Ta’aruf Tapi Mesra)

|| || || Leave a comments
ta'aruf



Inilah yang sering dilakukan oleh aktifis dakwah yang hatinya tidak bertameng keimanan. Jikalau ia bertameng, perisai tersebut memiliki gagang pegangan yang rapuh. Awal niatan berharap wajah Allah, rahmat dan naungan-Nya, akan tetapi terpaan badai godaan asmara terlarang bak gelombang yang datang bertubi-tubi, mengikis pingiran pantai keimanan perlahan-lahan. Padahal pinggiran pantai sudah terlindungi ilmu selebat hutan mangrove.

Bagaimana terpaan badai godaan asmara yang dasyhat itu?
Saling berhubungan langsung dengan HP,e-mail, inbox FB dan jejaring sosial. Awalnya sangat saling menjaga diri, menggunakan kata-kata yang sopan, serius dan to the point. Akan tetapi siapa yang tahu setan menyelinap berkelit-kelit dalam sinyal HP, menerobos paksa password e-mail dan bersembunyi di inbox FB. Bersamaan dengan berlalunya waktu yang tidak sebentar, maka kata-kata dan kalimat yang bertukaran antarkeduanya bermetamorphosis, metamorphosisnya sepasang kupu-kupu siap berkawin.
Muncullah kalimat yang belum layak mencapai waktu prosanya,
“wahai calon ibu dari anakku, semenjak kita mulai ta’aruf saya jadi lebih bersemangat menjalani hari, apalagi jika kita menikah nanti, K.A.N.G.E.N ^^”
“Daku tak menyangka pangeran berjanggut tipis itu adalah engkau, maju ta’aruf dengan gagah berani, kegelisahan rindu ini memang harus berujung dibelaian kedua tanganmu dalam dekapan, segera, segera dan segera majulah wahai mujahidku”

Yang parahnya adalah bertemu langsung dengan mudahnya dan sudah tidak ada lagi yang membedakan mereka berdua dengan apa yang kita temui di jalan-jalan, di pasar, di mall dan di pusat keramaian manusia. Tidak ada bedanya dengan mereka yang menggenjot pedal gas hawa cinta menerobos peringatan merah di jalan keramaian syariat.
Mereka yang sudah diperingati dalam hadits Rasulullah shallahu alaihi wa sallam seolah-olah menghalalkannya di jalan-jalan.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan [menganggap halal] perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” [HR. Bukhari]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallah ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (ingin bercumbu dan berzina) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, “alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.” (HR. Abu Ya’la no. 12746, Al-Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” ,
lihat Majmu’ Zawaid 7/331, Maktabah Al-Qudsi, Koiro, 1414 H, Asy-Syamilah]

Diriwayatkan dari al-Nawwas radhiallah ‘anhu:
“Dan ingatlah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.” [HR. Muslim]

Sebaiknya mengunakan perantara comlang yang sudah bersuami-istri sehingga tidak ada celah untuk setan berkelit. Karena sekuat-kuat iman seseorang ia belum tentu mampu menahan gejolak cinta. Inilah yang pepatah yang populer di zaman kakek-buyut kita “Sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Ya, itulah cara setan menggiring manusia secara perlahan. Akan tetapi pembawa syariat shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih cerdas dibandingkan setan.

 Cara ini tidak berlaku jika selalu menggenggam kaidah beragama,
سد الذرائع
“Menutup jalan menuju keburukan”
Yaitu jangan sampai ada hubungan yang tidak perlu jika belum waktunya, jika hubungan itu sangat perlu dalam ta’aruf demi mengenal, maka gunakanlah perantara comblang.

@Markaz YPIA, Wisma Darut Tauhid, Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta
Penyusun:  Raehanul Bahraen
[muslimafiyah]

Jatuh Cintalah Kepada Banyak Orang?

|| || , || Leave a comments
asmara



Ada satu prinsip yang salah, tetapi masih saja ada penganutnya, bahkan ini dari seorang ustadz yang dikenal di Indonesia sebagai spesialis ustadz cinta karena terkenal dengan bukunya.  Yaitu agar tidak kecewa banyaklah jatuh cinta kepada orang. Dengan kata lain semisal seorang ikhwan, maka ia mengejar beberapa akhwat, memberi lampu hijau kode-kode semi rahasia yang menggetarkan hati beberapa akhwat, menggetarkan hati dengan pandangan tajam berbalut malu diikuti tarikan wajah kebawah seolah menundukkan pandangan, memberikankan secuil perhatian tetapi sudah sangat menggetarkan.
Mengapa harus ke beberapa orang?
Alasan mereka agar tidak kecewa nantinya, memiliki banyak target dan cadangan. Jika yang target yang satu telah ada penjaga resminya, maka ia masih ada target yang lain.

Lebih-lebih akhwat di balik kegalauan dan kecemasaannya, maka prinsip ini cukup menenangkan bagi mereka, mengirim sinyal-sinyal lembut yang lebih menggetarkan lagi, membuka beranda hati untuk disinggahi beberapa ikhwan. Beberapa ikhwan yang ia anggap masuk kriteria, maka ia berusaha membakar,  jika tidak ada api kobaran cinta, minimal ada asap berbau asmara. Ia hanya membuat-buat getaran saja, sehingga kelak ada beberapa ikhwan yang menaruh harapan kepadanya. Atau ada salah satu yang kelak akan maju.

Kita katakan prinsip ini kurang tepat. Ini bukti kurangnya keimanan terhadap janji Allah mengenai pasangan kelak yang baik jika dirinya sudah baik. Perhatikan kelemahannya:

-menunjukkan kurangnya iman terhadap janji Allah
-sakit hati

jika ada salah yang lebih dahulu mendahuluinya menuai aqad sah. Rasa sakit karena cinta, bisa membuat seseorang berkhayal agar memori otaknya dihapus. Begitu juga jika ada lawan jenis lainnya yang mendekati, maka dadanya sesak dan hatinya sakit. Sungguh ironis, sekiranya Allah memciptakan cinta untuk membuat bahagia tetapi ia merana karena cinta.

-membuang waktu, tenaga dan pikiran.
Karena yang namanya membakar asmara yang membuatnya mampu bergetar, tidak semudah membakar dengan menggoreskan pentul korek api. Asmara muncul dengan sakral dan perlahan-lahan menyusup. Tentu ini membuang waktu, tenaga dan pikiran apalagi jika targetnya beberapa orang. Hendaknya kita memperhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” [HR. At-Tirmidzi no. 2318, hasan lighairihioleh Syaikh Shalih Alu Syaikh dalm Syarh al-Arbain an-Nawawiyah]


Demikian semoga bermanfaat,

@Pogung Dalangan, Yogyakarta Tercinta
Penyusun:   Raehanul Bahraen
[muslimafiyah]

Mahasiswa “Ngaji” Haruskah IP-Nya Cumlaude ?

|| || , || Leave a comments


kampus
*Makalah Kajian FKG UGM
“gimana ni, katanya mahasiswa ngaji, tapi IP-nya kok NASAKOM (nilai Satu Koma), kok kayaknya ga peduli banget dengan kuliahnya, jangan-jangan kalo kita seperti dia, ntar nasibnya sama”

“nak, kalau jadi mahasiswa di sana nanti, jangan lupa belajar agama ya, jangan belajar ilmu dunia saja, dunia ini sementara, jangan lupa kampung akherat kita yang kekal”


Ya, seharusnya mahasiswa yang belajar ilmu agama IP-nya bisa cumlaude (tetapi tidak wajib cumlaude juga). Mengapa? Karena Ilmu agama yang ia pelajari mengajarkan agar ia menjadi mahasiwa yang baik, membanggakan orang tua, berguna bagi orang lain dengan ilmu yang ia miliki

Mahasiswa harus menjaga amanat dari orang tua
lulus dengan pulang membawa gelar adalah bentuk berbakti kepada orang tua dan kuliah adalah amanta dari orang tua. Maka kita harus sebisa mungkin membanggakan orang tuanya dengan nilai yang baik atau lulus tepat waktu. Perlu diketahui ketahui bahwa umur-umur orang tua kita saat kuliah, yang menjadi kebanggaan dan percaya diri mereka sesama teman, bukan harta dan bukan jabatan tetapi kesuksesan anak. Betapa banyak ibu-ibu yang minder tidak datang arisan karena anaknya tidak lulus-lulus atau bermasalah. Padahal ia kaya dan memiliki jabatan.
Buatlah orang tua kita bangga dengan kesusksesan kita, mungkin ini jalan paling terbaik untuk membalas budi mereka yang tidak akan bisa mungkin terbalaskan.
Sebagai seorang muslim kita harus berusaha menunaikan amanat dengan baik
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu’minun: 8)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal : 27)

Islam mengajarkan agar berlimu dan menuntut ilmu
Islam memberikan motivasi agar berilmu dan meninggikan derajat mereka. Seharusnya semangat belajar di kampus dan menjadi mahasiswa yang baik.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad) tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 114]
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Az Zumar : 9]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.”[1]

Mahasiswa Islam harus pandai mengatur dan memanagemen waktu
Mengaji dan belajar agama tidak mengahalangi belajar di kampus. Karena seorang muslim diperintahkan oleh agama agar bisa mengatur dan menghargai waktunya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menukilkan perkataan Imam Syafi’i rahimahullah, beliau berkat,
صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَلَمْ أَسْتَفِدْ مِنْهُمْ سِوَى حَرْفَيْنِ: أَحَدُهُمَا قَوْلُهُمْ: الْوَقْتُ سَيْفٌ، فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ “.
“Saya menemani orang sufi, aku tidak mendapat manfaat kecuali dua, salah satunya: Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu”[2]
Dan orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.
Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.[3]
Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,
أدركت أقواما كان أحدهم أشح على عمره منه على درهمه
“aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka”[4]

Mahasiswa muslim berusaha merancang masa depan dan menjadi berguna bagi orang lain
Kita diajarkan agar memilik target dan capaian serta melihat masa depan kita.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18).
Dan berusaha berguna bagi orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[5] 

Mahasiswa muslim juga harus tetap belajar agama terutama ilmu yang wajib
Menjadi mahasiwa adalah tahap yang dibilang surga kehidupan, hidup bebas, tidak banyak campur tangan ortu, belum ada beban mencari uang dan lain-lain. Akan tetapi jangan sampai ia lupa belajar agama selain belajar ilmu dunia di kampusnya. Tidak merti menjadi ustadz, karena setiap orang memiliki jalan jihad masing-masing. Belajar agama yang waji-wajib dahulu, mislanya aqidah dan tauhid, fiqh keseharian dan akhlak. Adapun masalah ushul fikh dan takrij hadits, maka ini adalah urusan para ulama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.[6]

Demikian semoga bermanfaat
@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta
Penyusun:   Raehanul Bahraen
[muslimafiyah]



[1] HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037
[2] Al-Jawabul Kaafi hal. 156, Darul Ma’rifah, beirut, 1418 H, syamilah
[3] Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar
[4] Dinukil dari “waqtuka huwa umruka” Sumber: http://www.saaid.net/female/r166.htm
[5] Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289
[6] HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah